EkonomiEkonomi Kreatif

Akankah Revolusi E-Commerce 4.0 Mematikan Toko Offline? (1)

Oleh: Suandri Ansah |

Konsep jual beli online akan melebarkan sayap berkolaborasi dengan toko-toko offline

wartamelayu.com, Jakarta — Indonesia merupakan pasar terbesar e-commerce di Asia Tenggara. Menurut data Euromonitor (2014), penjualan online Indonesia mencapai US$1,1 miliar atau lebih tinggi dibanding Thailand dan Singapura.

Pada 2016 penjualan online Indonesia meningkat menjadi US$6,1 miliar dan mencapai US$7,5 miliar pada tahun 2017. Penjualan e-Commerce diperkirkan bakal tumbuh 133,5% menjadi US$ 16,5 miliar pada 2022

Pengamat ekonomi Yustinus Prastowo menilai perkembangan dan revolusi e-commerce 4.0 tidak akan mematikan toko-toko offline, seperti yang diperkirakan selama ini.

“Tidak benar e-commerce 4.0 akan meniadakan offline, tapi integrasi,” kata Yustinus saat diskusi bersama Ipsos Indonesia mengenai riset “E-commerce 4.0 What’s Next” di Jakarta, Selasa (19/2).

Ke depan, katanya konsep jual beli online akan melebarkan sayap berkolaborasi dengan toko-toko offline, “E-commerce 4.0 itu kolaborasi,” katanya

Kolaborasi antara toko online dengan toko offline dikenal dengan istilah “online to offline” atau O2O, misalnya berbelanja melalui platform online kemudian mengambil barang langsung di toko fisik terdekat.

Kolaborasi O2O menurut Yustinus akan menciptakan lapangan pekerjaan baru karena sistem ini membutuhkan gerai fisik atau gudang (warehouse).

CEO Blibli menyatakan, sejak beberapa waktu belakangan mereka menggarap sektor O2O sebagai salah satu kanal penjualan.

“Tujuan kami bukan mematikan toko, online ini menjadi salah satu kanal,” kata Kusumo di acara diskusi yang sama.

Konsumen yang datang langsung ke toko yang bekerja sama dengan Blibli dapat merasakan semua fasilitas online, misalnya program cicilan. (Kbb)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close