Internasional

Aksi Protes di Hong Kong Masih Berlanjut

Oleh: Nurcholis |

 

Wartamelayu.com, Jakarta – Aksi protes di Hong Kong masih berlanjut. Polisi di Hong Kong harus menggunakan semprotan merica terhadap pengunjuk rasa anti-pemerintah yang memblokir jalan raya saat mereka melancarkan protes baru awal pagi ini.

Ketegangan kembali muncul di kota semi-otonom setelah sekelompok demonstran yang juga mengenakan topeng memblokir tiga rute utama pada peringatan 22 tahun pengajuan Hong Kong ke Cina.

Baca Juga

Cina dan Indonesia Perkuat Kerja Sama Menguntungkan

Trump dan Xi Akhirnya Sepakat Gencatan Senjata

Sesaat sebelum upacara pengibaran bendera selama acara tersebut, polisi bertindak untuk mengusir pengunjuk rasa di distrik Admiralty dan Wanchai untuk memicu pertempuran kekerasan.

Beberapa pengunjuk rasa juga melemparkan telur ke polisi dan 13 dilaporkan harus dikirim ke rumah sakit setelah ditemukan ‘cairan tidak dikenal’.

“Ini bukan yang kita inginkan. Pemerintah memaksa kita untuk menunjukkan protes kita dengan cara ini,” kata siswa Benny (20).

Kepolisian mengatakan sebanyak 13 petugas telah dilarikan ke rumah sakit, beberapa dari mereka terpapar cairan tak dikenal. Lainnya dilaporkan mengalami kesulitan bernapas, kutip BBC.

Aksi unjuk rasa telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir guna menentang rancangan undang-undang ekstradisi, yang membuat seorang warga dikirim ke Cina untuk diadili.

Pemerintah Hong Kong sepakat menangguhkan sementara RUU itu hingga batas waktu tak ditentukan, namun demonstrasi masih berlanjut.

Para demonstran berkeras mendesak agar RUU tersebut dicabut, istilah “kerusuhan” ditarik dalam menjelaskan unjuk rasa besar-besaran pada 12 Juni, semua tahanan pegiat dibebaskan , dan dugaan kekerasan polisi diselidiki

Meskipun Hong Kong diserahkan oleh Inggris pada pemerintah Cina pada 1 Juli 1997, Hong Kong masih diatur secara terpisah di bawah persetujuan ‘satu negara, dua sistem’.

Kota ini menikmati hak dan kebebasan yang tidak dapat dilihat di Cina Daratan, tetapi warga Hong Kong khawatir Beijing menolak kesepakatan itu.

“Apa yang terjadi selama beberapa bulan terakhir telah memicu konflik antara pemerintah dan rakyat, dan ini telah membuat saya sepenuhnya sadar bahwa sebagai seorang politisi, saya harus sadar dan memahami perasaan rakyat,” kata  Kepala Eksekutif, Carrie Lam dikutip AFP(Rap/cak/INI-Network)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close