NewsPolitik

Anhar Gonggong: Saya Tidak Ragu Mengatakan Dokumen Supersemar Itu Ada

Oleh: Ahmad ZR |

Memperdebatkan keberadaan dan keabsahan dokumen Supersemar saat ini dinilai hanya sebagai pekerjaan sia-sia belaka.

wartamelayu.com, Jakarta — Bagi Indonesia, 11 Maret merupakan tanggal yang bersejarah. Sebab, pada tanggal itulah, tepatnya pada 11 Maret 1966, Presiden Soekarno memberikan mandat kepada Soeharto untuk memegang tampuk kepemimpinan nasional. Mandat itu tercatat dalam berbagai literasi sejarah yang dikenal dengan nama Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).

Sejak Presiden Soeharto tak lagi memimpin Indonesia, publik di negeri ini mulai diributkan oleh polemik yang meragukan keabsahan Supersemar. Bahkan, sepanjang dua dekade pascaruntuhnya Orde Baru, masih banyak pihak yang membicarakan dan bahkan menuding Supersemar tidak ada; hanya dibuat-buat, dan; terkesan rekayasa semata.

Merespons diskursus tersebut, sejarawan Anhar Gonggong menyatakan, masyarakat tidak perlu meributkan lagi keabsahan Supersemar, karena konteks perubahan zamannya kini sudah terlampau jauh. Seharusnya, kata dia, masyarakat dapat memetik pelajaran dari kepemimpinan saat itu yakni zaman Soeharto.

“Enggak perlu (diperdebatkan). Sudah selesai kok (Supersemar itu). Apalagi yang mau dipersoalkan? Soekarno sudah meninggal, Soeharto sudah meninggal. Sudah berubah pemerintahannya,” kata Anhar kepada Indonesia Inside, saat dihubungi di Jakarta, Senin (11/3).

Dia menuturkan, Soeharto memang berhasil naik dan memegang tampuk kendali pemerintahan di negeri ini dengan Supersemar. Namun, memperdebatkan absah atau tidaknya suksesi semacam itu hari ini, menurut Anhar, hanya membuang-buang energi.

“Dia (Soeharto) sudah selesai.Soekarno juga sudah selesai. Tapi sekarang Soekarno punya pengaruh tertentu dengan PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan). Soeharto dengan Partai Berkarya. Masing-masing mau membangun dinasti, itu urusan dia. Dan itu bukan karena Supersemar kan?” ujar Anhar.

Sejarawan kelahiran Pinrang, Sulawesi Selatan itu mengatakan, Supersemar memang diberikan Soekarno kepada Soeharto meski hingga kini keberadaan dokumen penting tersebut tidak diketahui. Misteri itulah yang pada akhirnya menjadi perbincangan dalam berbagai literasi sejarah.

“Ada, kalau itu (Supersemar) ada. Saya tidak pernah ragu untuk mengatakan itu ada. Dan itu yang menjadikan Soeharto menapaki kedudukannya sampai presiden,” ujarnya.

Bagi kelompok yang masih penasaran akan keberadaan bukti fisik asli Supersemar, Anhar lebih merekomendasikan agar mereka menanyakan langsung ke pihak keluarga almarhum Soeharto yang lebih tahu.

“Iya tanya sama keluarga Soeharto. Kalau menurut saya seperti itu dan tidak ada masalah. Enggak usahlah meributkan sesuatu yang tidak perlu diributkan,” tuturnya.

Senada, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mengatakan bahwa dokumen Supersemar memang ada meskipun wujudnya belum dapat ditemukan hingga saat ini. Karenanya, dia meminta masyarakat untuk tidak lagi mempersoalkan itu.

“Menurut saya tidak perlu (diperdebatkan keberadaan dokusemen Supersemar),” ujarnya, saat dihubungi di Jakarta, Senin (11/3). (AIJ)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close