Nusantara

Bertahan Jadi Penenun Songket Palembang Selama 30 Tahun

Oleh: Rio AP

Wartamelayu.com, Palembang — Usia Khadijah termasuk sudah tidak muda lagi, 50 tahun. Meski begitu, membuat songket sudah menjadi kehidupan bagi Khadijah. Betapa tidak, dirinya mulai menenun sejak 30 tahun yang lalu.

Ditemui di Songket Serengan Sejati di Jalan Ki Gede Ing Suro, 32 Ilir, Kota Palembang. Khadijah belajar menenun dari keluarganya. Menurutnya, untuk menenun sebuah songket dibutuhkan sebuah kesabaran, karena harus menyusun setiap benang menjadi sebuah kain songket yang indah dan anggun.

“Kalau awal menenun dulu itu paling susah untuk menyusun benangnya,” ujar Khadijah di Palembang, Ahad (4/8).

Baca Juga

Songket dan Jumputan Andalan Sumsel di Ajang Karya Kreatif Indonesia

Seiring dengan waktu dirinya terbiasa. Meskipun begitu, ia menyebut, untuk membuat sebuah songket dibutuhkan waktu selama satu bulan. Bukan itu saja, jika motif yang dibuat sulit bisa mencapai tiga bulan.

“Ya, jadi memang membutuhkan sebuah kesabaran dan kehati-hatian dalam menyusun benang-benang tersebut,” kata dia.

Dia menjelaskan, tingkat kesulitan pembuatan songket Palembang cukup tinggi berbeda dengan tingkat kesulitan songket di daerah Sumatera Selatan lainnya. Menurutnya, sulitnya pembuatan songket Palembang dikarenakan benang yang dipasang harus sangat rapat.

“Lebih sulit membuat songket Palembang dibanding dengan daerah lainnya. Biasanya kami mendapatkan upah untuk satu selendang seharga Rp350 ribu,” ucap dia.

Dirinya berharap ke depan akan banyak lagi penenun-penenun yang ada di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Jangan sampai penenun songket ini hilang akibat modernisasi saat ini.

“Semoga saja, akan banyak penenun-penenun muda yang pandai berinovasi menciptakan motif baru,” tuturnya. (RAP)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close