EkonomiEkonomi Kreatif

Dari Indonet ke Startup Unicorn “Yang Online-Online Itu” (2)

Oleh: Suandri Ansah |

Startup adalah perusahaan rintisan berbasis teknologi di mana solusinya tidak jelas dan kesuksesan tidak dijamin

wartamelayu.com, Jakarta — E-commerce terus berkembang sejak pertama kemunculannya, lembaga riset Ipsos Indonesia mencatat platform e-commerce di Indonesia sudah ada pada era 1990-an.

Menurut catatan Ipsos Indonesia, salah satu pelopor pada E-commerce 1.0 tersebut adalah Indonet, namun platform mereka berbeda dengan e-commerce saat ini. E-commerce waktu itu berupa katalog elektronik berupa harga dan deskripsi produk.

Mengutip money.id, Ketua Indonesia e-Commerce Association (idEA), Daniel Tumiwa, menjelaskan perkembangan industri digital Indonesia merayap begitu cepat.

Ia pun mengisahkan awal mula hiruk-pikuk industri ini yang ditandai oleh kemunculan penyedia akses internet pertama di Indonesia, yakni Indonet di tahun 1994.

Berikut linimasa bisnis e-commerce di Tanah Air sebagaimana dipaparkan oleh Daniel Tumiwa:

1994: Internet Service Provider (ISP) komersial pertama di Indonesia, Indosat, berdiri

1999: Andrew Darwis mendirikan portal Kaskus, yang kemudian disusul oleh munculnya Bhinneka.com

2001: Draft Undang-Undang e-commerce disusun pemerintah

2005: Portal jual-beli dan iklan baris Tokobagus hadir

2007: Layanan uang elektronik Doku diluncurkan

2010: Nadiem Makariem mendirikan layanan transportasi ojek online, Go-Jek

2011: Situs pesan tiket online Tiket.com diluncurkan

2012: Traveloka dan idEA didirikan, Harbolnas diadakan dan diikuti 150 perusahaan

2014: Tokopedia mendapat kucuran investasi US$ 100 juta

2015: Tokobagus dilebur dengan Berniaga menjadi OLX Indonesia

2016: Pemerintah mengeluarkan roadmap e-commerce

Perkembangan e-commerce selama lima tahun terakhir menghadirkan E-commerce 3.0, berupa platform marketplace dan terpisah dari perusahaan induk. E-commerce menggandeng banyak pihak untuk masuk ke platform mereka.

Memasuki era E-commerce 4.0, banyak kekhawatiran e-commerce akan menggantikan toko fisik melihat situasi saat ini, tapi Pengamat ekonomi Yustinus Prastowo membantah prediksi itu.

“Tidak benar e-commerce 4.0 akan meniadakan offline, tapi integrasi,” kata Yustinus saat diskusi bersama Ipsos Indonesia mengenai riset “E-commerce 4.0 What’s Next”

Ke depan, katanya konsep jual beli online akan melebarkan sayap berkolaborasi dengan toko-toko offline, “E-commerce 4.0 itu kolaborasi,” kata dia

Sektor e-commerce pada tahun 2017 turut mewarnai dominasi Startup Unicorn global. Setidaknya ada 4 startup unicorn dari Indonesia, yaitu Traveloka, Go Jek, Tokopedia dan Bukalapak.

Dua yang terakhir merupakan platform jual beli online. Kelak istilah startup unicorn inilah yang mencuat pada Debat Pilpres 2019 putaran kedua pada Ahad (17/2).

Mengutip Forbes, istilah startup sendiri diartikan sebagai perusahaan yang bekerja untuk memecahkan masalah di mana solusinya tidak jelas dan kesuksesan tidak dijamin.

Sederhananya, startup adalah perusahaan rintisan yang menerapkan inovasi teknologi untuk menjalankan core business-nya dan memecahkan sebuah masalah di masyarakat, misalnya Go Jek untuk bidang transportasi.

Sementara, untuk mendapat julukan “Unicorn” sebuah startup mesti telah mengantongi valuasi lebih dari US$1 miliar. Dari keempat Unicorn Indonesia, berikut valuasinya: Traveloka US$4,1 miliar, Go Jek US$ 9,5 miliar, Tokopedia US$7 miliar, dan Bukalapak US$1 miliar.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Aileen Lee, investor pendiri Cowboy Ventures, dalam artikelnya “ Welcome to The Unicorn Club” yang terbit di Techcrunch pada 2013

Perusahaan yang mengantongi status unicorn dinilai berdasarkan penilaian yang dikembangkan oleh pemodal ventura dan investor yang berpartisipasi dalam putaran pendanaan. (Kbb)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close