Khazanah

Fachrul Razi, Khotbah Tanpa Shalawat

Oleh: Herry M Joesoef

Wartamelayu.com, Jakarta – Dalam dua hari ini Menteri Agama, Fachrul Razi, jadi perbincangan di lini media sosial. Setelah sebelumnya mengundang kontroversial tentang larangan bercadar dan celana cingkrang, kali ini tentang khotbah Jumat di masjid Istiqlal, Jakarta. Ya, pada Jumat (1/11) lalu, Fachrul Razi menyampaikan khotbah di masjid kebanggaan masyarakat Indonesia tersebut. Tetapi, baik khotbah pertama maupun khotbah kedua, Fachrul Razi tidak membaca shalawat. Inilah yang jadi titik soalnya.

Pengasuh pondok pesantren Nadhlatul Ulama (NU), Kresek, Kabupaten Tangerang, Banten, KH.Imaduddin Utsman, menilai bahwa shalat Jumat tersebut tidak sah. “Karena kurang rukun khotbahnya,” katanya.

Senada dengan Imaduddin, Ustadz Maaher At-Thuwailibi, dalam twitternya, Senin (4/11), menulis, “Khotbah Jumat Fachrul Razi di Istiqlal saya pastikan tidak sah. Karena tidak bershalawat kepada Nabi dalam khotbahnya. Dalam Mazhab Syafi’i dan Hanbali, shalawat Nabi dalam khotbah Jumat adalah rukun. Ditinggalkan, berarti batal. Tak faham dasar-dasar agama kok bisa jadi Menteri Agama?”

Di dalam kitab Al-Fiqh ‘Alal Madzhabil Arba’ah (Fiqih Menurut Madzhab Empat) karya Abdurrahman al-Jaziri, menyebutkan, bahwa Madzhab Hanafiyah dan Malikiyah, tidak memasukkan shalawat sebagai rukun. Sedangkan, madzhab Syafiiyah dan Hanbali, memasukkan shalawat sebagai rukun khotbah. Syafiiyah menyebut rukun khotbah itu ada 6, yakni: hamdalah, shalawat Nabi, wasiat takwa, membaca satu ayat al-Quran, mendoakan kebaikan untuk kaum mukminin dan mukminat. Begitu pula Hanbali, memasukkan shalawat sebagai salah satu rukun khotbah Jumat.

Masyarakat Islam Indonesia, mayoritas penganut Syafiiyah. Jadi, ketika khotib tidak bershalawat ketika menyampaikan khotbahnya, maka ia menjadi kegaduhan tersendiri.

Jika konsisten dengan madzhab Syafiiyah dan Hanbali, maka khotbah tanpa shalawat, hukumnya jadi batal. Dan karena itu, khotbah dan shalat Jumatnya juga batal. Lalu, bagaimana dengan jamaahnya? Sebagai jalan keluar, para jamaah bisa melaksanakan shalat dhuhur, sebagai pengganti shalat Jumat yang dinyatakan tidak sah tersebut. (RAP/HMJ/INI Network)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close