Ekonomi

Gelombang PHK Semakin Besar, Ekonom: Pemerintah Tidak Bisa Mengendalikan Perekonomian

Oleh: Ahmad Z.R |

Presiden Jokowi pada kampanye 2014 menjanjikan 10 lapangan pekerjaan. Nyatanya, hari ini gelombang PHK tidak bisa dibendung.

wartamelayu.com, Jakarta — Ekonom Ichsanuddin Noorsy urun komentar terkait besarnya gelombang PHK (pemutusan hak kerja) selama tahun 2018 hingga awal 2019. Terbaru, PT Hero Supermarket Tbk memberhentikan 532 karyawannya.

“Itu bukti sesungguhnya pemerintah tidak bisa mengendalikan perekonomian. Gagal. Selain itu, alasan pemerintah dapat mengendalikan harga juga gagal. Bukti selanjutnya adalah inflasi yang disodorkan tidak riil,” kata Ichsanuddin kepada Indonesiainside.id, Kamis (17/1).

Lebih lanjut, Ichsanuddin menjelaskan dalam teori ekonomi gejolak harga akan mendorong terjadinya inflasi. Sementara pemerintah mengatakan inflasi masih terkendali di angka 3,4. Nyatanya, angka tersebut berbeda dengan kondisi di lapangan. “Maka angka 3,4 ini menjadi masalah,” katanya.

Solusinya, jelas Ichsanuddin, pemerintah harus memperbaiki asas makro fundamental ekonomi. “Artinya ketika dibalikkan pada angka eksternalitas 3,4, nilai tukar nya rupiah atau dolar? Artinya nilai rupiah kita tidak berddaulat ketika ditukar ke dolar,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden KSPI ‎Said Iqbal mengatakan, pihaknya telah mencatat beberapa kasus PHK yang terjadi sepanjang  2018. Di Serang, Banten, dilaporkan PHK terjadi di PT. Alcorindo sekitar 600 orang buruh, PT RWA sekitar 660 orang buruh, PT Grand Pintalan sekitar 50 orang buruh. “Ada sebuah pabrik garmen yang melakukan PHK terhadap 600 orang buruh,” ujarnya.

Kemudian di Bogor, Jawa Barat, PT IKP yang tutup menyebabkan sekitar 600 orang buruh terkena PHK. Sementara PT Tanashin juga dalam proses melakukan PHK, di mana 300 orang buruh terancam kehilangan pekerjaan.

“Di Jakarta, PHK juga terjadi di PT FNG yang mengakibatkan sekitar 300 orang buruh kehilangan pekerjaan, di PT Pasindoi sekitar 56 orang buruh,” ungkap dia.

Di Purwakarta, PHK besar-besaran juga terjadi. Said mengungkapkan, tutupnya PT OFN mengakibatkan sekitar 1.800 orang buruh di PHK. Kemudian, PT Dada Indonesia yang menyebabkan 1.300 orang buruh di PHK, dan PT Iljunsun menyebabkan 1.400 orang buruh di PHK. (*/dry)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close