OPINI

Habibienomics dan Indonesia

Oleh: Daniel Mohammad Rosyid

Wartamelayu.com, Jakarta – Baharuddin Jusuf (BJ) Habibie telah pergi untuk selamanya. Ikon teknologi Indonesia itu telah menutup kisah hidupnya yang diwarnai dengan banyak tinta emas. Jejak karyanya bisa ditemui di mana-mana tersebar ke seluruh bentang benua maritim seluas Eropa ini : di darat, di laut dan di udara.

Habibie lah yang menginspirasi saya untuk melihat ke Timur, ke ITS Surabaya pada saat banyak kawan saya memutuskan ke Selatan (UGM) atau ke Barat (ITB, IPB atau UI) setelah lulus SMA di Semarang. Almarhum ayah saya minta saya mengambil kedokteran, teknik sipil atau AKABRI. Tapi saya memutuskan mengambil teknik perkapalan.

Habibie juga yang mengangkat martabat profesi insinyur setara dengan profesi ekonom, atau bahkan dokter. Krisis moneter yang pernah menghantam perbankan pernah menaikkan derajat profesi insinyur di atas para ekonom. Pernah ada debat Habibienomics vs Widjojonomics.

Yang pertama adalah ekonomi yang didorong oleh teknologi dengan semangat kemandirian dan makership di sektor industri berbasis sumberdaya lokal. Yang kedua adalah ekonomi yang didorong lebih oleh perdagangan, jasa dan sektor keuangan. Saat proses deindustrialisasi menjadi penciri ekonomi Indonesia selama 10 tahun terakhir lebih, sebagai insinyur tentu saya makin percaya lebih pada Habibienomics.

Indonesia telah dipimpin oleh beberapa presiden insinyur. Habibie adalah Soekarno muda. Cara berpikir insinyur berbeda dengan profesi lain. Jika pendidikan dokter selalu berbasis bukti (evidence-based), pendidikan insinyur berbasis design thinking: menciptakan sesuatu yang baru melalui sebuah proses non-linear dan bertahap, mempertanyakan asumsi-asumsi lama untuk menemukan inovasi baru.

Negeri kepulauan bercirikan Nusantara ini membutuhkan solusi teknolojik tidak saja untuk memanfaatkan kekayaan sumberdaya alamiahnya, tapi juga untuk mempersatukannya. Persatuan Indonesia tidak bisa dibayangkan tanpa  teknologi dirgantara dan maritim.

Habibienomics

Narasi Revolusi Industri 4.0 jelas perwujudan Habibienomics. Homo fabre mendahului homo sapiens. Melalui makership, interaksi manusia dengan material di sekelilingnya, manusia menciptakan nilai tambah. Membuat perahu dari kayu. Membuat pesawat terbang dari aluminium.

Memang produksi saja tidak cukup. Barang-barang itu harus diperdagangkan justru untuk membuktikan manfaat yang dijanjikan dari sebuah karya teknolojik. Perahu itu harus dipakai mengangkut kelapa melalui  sungai dan laut ke pulau lain. Persoalan muncul saat manusia hanya mau berdagang tapi tidak mau membuat barang-barang. Persoalan tambah rumit jika melibatkan uang yang nilainya berubah-ubah. Seringkali produsen barang, atau petani dan nelayan, tetap miskin sementara pedagang beras dan ikan kaya raya. Belanda kaya raya karena memperdagangkan rempah-rempah Nusantara. Singapura adalah Belanda di Asia yang memperdagangkan komoditi asal Indonesia.

Cina adalah raksasa yang tidak saja menjadi maker of the world, kini berusaha menjadi transporter of the world melalui One Belt One Road (OBOR). Fenomena Cina adalah fenomena Habibienomics.

Cina sedang menggusur AS sebagai maker of the world dan kini sedang terlibat perang dagang dengan AS yang semakin kehilangan basis industrinya. Gejalanya AS akan dikalahkan karena Cina memiliki basis sosial yang lebih kuat untuk “berpuasa”.

Agar Garuda tidak ditelan Naga, Indonesia harus mengambil peran makers of maritime productsseperti kapal berbagai jenis dan ukuran, serta  maricultural produce.

Menjadi negara maritim adalah geostrategical default bagi negara kepulauan bercirikan Nusantara ini. Kita perlu mewujudkan Habibienomics namun tidak abai terhadap trade and commerce. Agar terjadi fair trade, maka price and terms of payment harus berkeadilan: satu mata uang dunia berbasis emas. Habibienomics perlu diperkaya dengan blue economics yang dipijakkan pada teknologi konvivial : mendorong kreativitas tapi tidak memperbudak manusia. Untuk Indonesia, Habibienomics juga maritinomics.

Menyambut inspirasi BJ Habibie itu, ITS telah menyelenggarakan serangkaian kuliah bertema Bung Karno untuk Kebangsaan dan Teknologi.

Studium Generale ini dimaksudkan untuk menebarkan semangat kemandirian teknologi di berbagai bidang stratejik: energi, transportasi, dan telekomunikasi.

Beberapa tokoh nasional seperti Kusmayanto Kadiman telah hadir memberikan pandangannya selaku menristek dalam studium generale ini.

Walaupun Habibie telah pergi selamanya, spiritnya akan tetap melekat di hati para insinyur Indonesia.

Saya berharap banyak kampus teknologi seperti ITS melanjutkan semangat Habibie dalam membangun kemandirian teknologi di zaman revolusi industri 4.0 ini.

Teknik Perkapalan ITS yang diresmikan oleh Bung Karno di tahun 1960 dan diselamatkan oleh BJ Habibie di tahun 1974 dari ancaman likuidasi oleh konsorsium teknologi waktu itu adalah warisan Habibie yang kini berkembang pesat menjadi Fakultas Teknologi Kelautan.

Kiranya Allah Subhanahu Wata’ala memberinya tempat kembali yang terbaik di sisiNya. Aamiin. (RAP/CK/INI Network)

Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan, pendiri Rosyid College of Arts and Maritime Studies

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close