News

Izin Habis, Tujuh Helikopter Pengebom Air tak Bisa Operasi

 

Oleh: Rio AP

Wartamelayu.com, Palembang — Kebakaran hutan dan lahan hingga kini masih melanda Sumatera Selatan, terutama di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI). Satuan tugas karhutla darat pun masih terus melakukan upaya pemadaman, sementara helikopter water bombing atau pengebom air tak dapat dioperasikan untuk membantu memadamkan api dari udara.

Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan, Ansori, mengatakan sebenarnya ada tujuh helikopter bom air yang standby di wilayahnya. Namun, kata dia, sampai sore ini belum bisa dioperasikan.

“Ada tujuh helikopter pengebom air yang standby, tapi sekarang belum bisa beroperasi karena izinnya habis pada 10 November 2019 kemarin,” ujar Ansori saat dihubungi, Senin (11/11).

“Apalagi kan masa tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatam diperpanjang sampai akhir November ini, jadi izin operasi helikopter pengebom air juga diperpanjang. Karena para kru helikopter itu kan merupakan tenaga asing,” tambahnya.

Dia menjelaskan, jika izin operasi sudah keluar kembali maka helikopter pengebom air dapat bekerja untuk memadamkan api dari udara. “Kita masih menunggu, secepatnya keluar (izin operasi helikopter pengebom air). Kalau sudah langsung diterjunkan ke wilayah OKI untuk membantu satgas karhutla darat memadamkan api,” ungkap Ansori.

Ia menambahkan, sampai sejauh ini kebakaran lahan terus terjadi khususnya di Kabupaten OKI. Dia menyebut, untuk penanganan di sana pihaknya telah menambah jumlah personel untuk memadamkan api.

Dikatakan dia, jumlah personel yang diterjunkan 635 personel gabungan dari TNI, Polri, BNPB, BPBD Provinsi Sumsel, Pop PP, Manggala Agni, serta bantuan personel dari BPBD Ogan Ilir. “Ada 635 personel yang kita kirim untuk membantu padamkan api di wilayah OKI. Ratusan personel itu disebar di 20 desa,” tuturnya. (RAP)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close