Nusantara

Jarak Pandang Hanya 50 Meter, Delapan Penerbangan di Bandara Palembang Terganggu

 

Oleh: Rio AP

Wartamelayu.com, Palembang — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan, kembali menyelimuti Kota Palembang. Pagi tadi, Rabu (9/10), Stasiun Sultan Mahmud Badarudin (SMB) II Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis bahwa jarak pandang terendah menyentuh angka 50 meter.

Dampak jarak pandang yang berkisar hanya 50-400 meter mengakibatkan sebanyak 8 penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang mengalami delay (tertunda).

“Jarak pandang terendah pagi tadi berkisar 50 sampai 400 meter dengan kelembapan pada saat itu 95-96% dengan keadaan cuaca smoke (asap). Akibatnya delapan penerbangan tertunda,” ujar Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Sumatera Selatan, Bambang Beny Setiaji di Palembang, Rabu (9/10).

Dia menjelaskan, angin permukaan yang tercatat di BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang umumnya dari arah Tenggara -Selatan dengan kecepatan 4-11 knot (7-20 kilometer per jam) mengakibatkan potensi masuknya asap akibat karhutla ke wilayah Kota Palembang dan sekitarnya.

Sumber dari Lapan pada 9 Oktober 2019, lanjut dia, tercatat beberapa titik panas di wilayah sebelah Tenggara Kota Palembang dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen yang berkontribusi asap ke wilayah Kota Palembang yakni pada wilayah Banyuasin 1, Tulung Selapan, dan Mesuji.

“Intensitas asap pagi hari (pukul 04.00-07.00 WIB) dan sore hari (pukul 16.00-20.00 WIB) dikarenakan labilitas udara yang stabil (tidak ada massa udara naik) pada waktu-waktu tersebut,” kata dia.

Menurutnya, fenomena asap sendiri diindikasikan dengan kelembapan yang rendah dengan partikel-partikel kering di udara, mengurangi jarak pandang, beraroma khas, perih di mata, mengganggu pernafasan dan matahari terlihat berwarna oranye/merah pada pagi/sore hari. Hal ini, kata dia, berpotensi memburuk jika adanya campuran kelembapan yang tinggi (partikel basah/uap air) sehingga membentuk fenomena kabut asap yang umumnya terjadi pada pagi hari.

Secara regional, sambung dia, munculnya Badai Tropis Hagibis di Laut Cina Selatan mengakibatkan kembali adanya aliran massa udara ke arah pusat tekanan rendah badai tersebut. Dia menyebut, hal ini mengakibatkan penurunan potensi dan intensitas hujan di wilayah Sumsel tiga hari ke depan (10-12 Oktober 2019). Sedangkan secara lokal, kondisi hujan akibat faktor lokal (awan konvektif) akan tetap berpotensi di wilayah bagian barat Sumsel dikarenakan kelembapan udara lapisan atas cukup memadai untuk pertumbuhan awan, biasanya hujan yang terjadi berlangsung sebentar, sporadis (berbeda tiap tempat) dan berpotensi petir disertai angin kencang.

“Masyarakat kami imbau untuk senantiasa menggunakan masker dan berhati-hati saat bertransportasi pada pagi hari (pukul 04.00-08.00 WIB) dan sore hari (pukul 16.00-20.00 WIB) seiring potensi peningkatan partikel udara kering di udara (asap) dan menurunnya jarak pandang,” tutur dia.

Untuk diketahui, data terakhir luas kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan yang berhasil dikalkulasikan tim gabungan pemadaman darat berdasarkan Satelit Sentinel, Landsat 8 OLI TIRS dan MODIS per Oktober 2019 tercatat 106.307 hektare. (RAP)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close