Ekonomi

Jika Minyak Curah Dilarang, Pedagang: Mau Untung Malah Buntung

 

Oleh: Rio AP

Wartamelayu.com, Palembang — Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan mewajibkan penjualan minyak goreng dalam bentuk kemasan untuk memenuhi SNI wajib guna meningkatkan mutu dan keamanan pangan. Karena itu, pada awal Januari 2020, Kemendag akan melarang penjualan minyak goreng dalam bentuk curah.

Rencana pelarangan minyak goreng curah ini terungkap dalam pernyataan Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita dalam acara “Launching Wajib Kemas Minyak Goreng Dalam Rangka Mendorong Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri” di Jakarta, Minggu (6/10).

Pada saat itu, mendag menyatakan tidak akan ada lagi minyak goreng curah di pasar domestik hingga ke pelosok-pelosok desa pada awal 2020. Namun, pada Selasa (8/10), mendag buru-buru menegaskan tidak melarang warga untuk dapat menggunakan minyak goreng curah yang berada di pasar.

Pastinya pernyataan kontroveraial mendag itu masih membuat masyarakat bingung. Lantas, jika memang minyak goreng dilarang, bagaimana nasib pedagang kecil?

Mba Wiwik, seorang pedagang makanan di Palembang, Rabu (9/10), mengeluhkan jika kebijakan pemerintah itu memang diterapkan. Menurutnya, selama ini ia memang menggunakan minyak goreng curah karena harganya lebih murah dibanding kemasan.

“Ya, kalau dilarang, mau cari yang murah buat menggoreng dagangannya susah juga, masih mahal juga pastinya,” ujar dia.

Dia menjelaskan, tapi jika minyak curah diubah berbentuk kemasan tentu harga akan naik dan itu membuat sulit bagi pedagang kecil seperti dirinya. Karenanya, kata dia, harga minyak kemasan umumnya lebih mahal dibanding minyak goreng curah.

“Kalau sudah dikemas dan harga sama seperti minyak goreng kemasan bisa bangkrut. Bukannya untung malah buntung,” ungkap dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Sumatera Selatan, Yustianus, mengatakan, pihaknya belum menerima edaran resmi dari pihak Kementerian Perdagangan terkait hal tersebut. Dia menyebut, sepengetahuannya kebijakan itu pada dasarnya masih dikaji oleh pusat.

Kendati demikian, menurut Yustianus, rencana kebijakan tersebut mempunyai tujuan yang cukup baik. Salah satunya, lanjut dia, packing untuk minyak goreng curah akan mengarah ke minyak kemasan.

“Dengan dikemas dengan baik konsumen bisa melihat label nama perusahaan, kapan diproduksinya dan izin pemasarannya. Keamanan konsumen pun tentu lebih terjamin,” kata dia.

Yustianus pun menambahkan, dari sisi harga baik minyak goreng curah dan minyak goreng kemasan memiliki harga jual yang tidak jauh berbeda. Jika minyak goreng curah dijual dengan Rp 10.000 per kilogram, sementara minyak kemasan dipasarkan dengan Harga Eceran tertinggi (HET) Rp 10.500 sampai Rp 11.000 per kilogram.

“Ini lebih kepada kemasannya. Karena masih ada tenggang waktu, kita harap produsen minyak curah bisa mempersiapkan alternatif kemasan untuk minyak curah yang lebih laik edar,” tutur dia. (RAP)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close