NasionalNews

Jubir Prabowo-Sandi: Jokowi Impor Gandum Besar-Besaran

Oleh: Suandri Ansah |

Peningkatan impor gandum untuk keperluan pakan rata-rata sekitar 2,7 juta ton per tahun atau sekitar 8,29 Triliun Rupiah

wartamelayu.com, Jakarta — Pernyataan Capres 01 Joko Widodo dalam debat publik kedua Ahad lalu (17/2) tentang penurunan angka impor jagung mendapatkan sanggahan dari juru bicara Cawapres Sandiaga Uno dan juga politisi Partai Gerindra, Anggawira.

Menurutnya, klaim pencapaian swasembada jagung dengan penghentian impor jagung tersebut hanya merupakan bentuk pengalihan impor dari jagung ke gandum.

“Kebijakan penghentian impor jagung sejak 2016 sampai 2018 untuk keperluan industri pakan ternyata diikuti oleh peningkatan impor gandum untuk keperluan pakan rata-rata sekitar 2,7 juta ton per tahun atau sekitar 8,29 Triliun Rupiah,” ujar Anggawira kepada Indonesiainside.id

Dalam kebijakan ini, Anggawira melihat adanya keberpihakan Jokowi terhadap sekelompok perusahaan pengimpor gandum dan merugikan para peternak skala kecil dan menengah di Indonesia.

“Impor gandum ini hanya menguntungkan para pengimpor gandum yang dikuasai hanya beberapa perusahaan saja,” katanya.

Di sisi lain, lanjut Anggawira, para peternak semakin dirugikan karena penggunaan gandum untuk pakan jauh lebih mahal ketimbang menggunakan jagung.

Anggawira yang juga merupakan lulusan Institut Pertanian Bogot (IPB) ini juga mengkritik klaim swasembada beras dan jagung yang disampaikan oleh Jokowi.

“Secara teori, jika terjadi swasembada dan ketersediaan cukup harusnya harga akan turun namun faktanya di lapangan harga jagung di pasar domestik tetap tinggi artinya terjadi kelangkaan. Dan yang paling dirugikan adalah masyarakat,” katanya.

Dalam debat pilpres putaran kedua kemarin Jokowi menyampaikan swasembada beras dan jagung yang telah tercapai di masa pemerintahannya.

“Saya sampaikan terima kasih pada petani jagung. Pada 2014, kita impor 3,5 juta ton jagung. Pada, 2018 hanya impor 180.000 ton jagung, artinya ada produksi 3,3 juta ton,” kata Jokowi.

Pernyataan Jokowi berlawanan dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Buletin Statistik Perdagangan Luar Negeri Impor November 2018. Indonesia telah melakukan impor komoditas jagung sebanyak 587,2 ribu ton sepanjang Januari hingga November 2018.

Angka tersebut meningkat dari tahun sebelumnya sebanyak 517,4 ribu ton jagung. Memang, rata-rata impor jagung di masa kepemimpinan Jokowi selama 4 tahun (2015-2018) sudah berkurang lebih dari separuh dibanding periode sebelumnya (2010-2013).

Negara terbesar pemasok jagung ke Indonesia adalah Argentina, dengan nilai impor sebesar 217.382 ton sejak awal tahun sampai September. Disusul berturut-turut Amerika Serikat (AS), Brazil, Australia dan Thailand.

Data yang disajikan BPS menepis klaim Kementerian Pertanian tentang swasembada jagung. Selama ini, Menteri Pertanian Amran Sulaiman bersikeras produksi jagung telah mencapai 30 juta ton. Melebihi kebutuhan 15,5 juta ton, ada surplus 13,5 juta ton.(Kbb)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close