Nusantara

Karhutla Berkepanjangan Mengancam Habitat Siamang, Gajah hingga Beruang

 

Oleh: Rio AP

Wartamelayu.com, Palembang — Kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan terus meluas hingga kini, Kamis (19/9). Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), menyebut ada 400 hektare kawasan hutan lindung yang terbakar selama 2019. Artinya, kondisi itupun mengancam hewan dilindungi yang tinggal di kawasan tersebut, jika kebakaran lahan tidak segera ditangani.

“Daerah yang paling banyak terbakar ada di Padang Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan,” ujar Kepala BKSDA Provinsi Sumatera Selatan, German S Hasibuan di Palembang.

Dia mengatakan, tentu dampak kebakaran di lahan konservasi (fungsi perlindungan) secara langsung akan berdampak pada kehidupan hewan yang hidup di sana. Adapun beberapa hewan yang diketahui hidup di kawasan Padang Sugihan seperti, Siamang, Burung Elang, Gajah, Rusa, dan Beruang.

Pihaknya saat ini belum menumukan catatan adanya hewan-hewan yang terdampak paparan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di lahan konservasi.

“Ya, pastinya dampak makhluk hidup ada. Hanya saja, di kawasan yang kita kelola, belum menemukan satwa liar yang terdampar,” katanya.

“Selain itu, kita juga belum mendapat laporan ada satwa liar yang terdampar karena biasanya satwa liar yang terdampar lebih karena terdesak. Istilahnya ada terdampak, tapi kita belum mendapat laporan mengenai satwa liat yang terdampar,” kata dia lagi.

Ia menjelaskan, daerah yang paling banyak terbakar ada di Padang Sugihan, Kabupaten Banyuasin. Menurutnya, kondisi lahan konservasi itu terbakar 400 hektare dari total lahan sekitar 88.408 hektare. Lahan terbakar kebanyakan hanya terbakar di bagian permukaannya, tapi hal itu akan sangat berdampak jika terjadi kebakaran lanjutan.

“Kami mendeteksi banyak yang terbakar di gambut Padang Sugihan. Itu yang terbakar di bagian permukaan, tapi kalau sudah terbakar lagi akan turun ke bawah. Yang terbakar memang selalu relatif umumnya dipinggiran kawasan tetapi, bukan tidak pernah ditengah,” tambahnya.

Dia juga menambahkan, berdasarkan catatan BKSDA Provinsi Sumatera Selatan, hotspot (titik panas) di lahan konservasi terus meningkat dalam 10 hari terakhir. Ia menilai, walaupun belum dapat dikatakan berbahaya, pihaknya yang bertugas di lapangan berusaha memadamkan lebih dini agar kebakaran lahan tidak menyebar.

“Hari ini ada 19 hotspot di pinggir kawasan konservasi yang kita catat. Kebakaran mulai masif dalam 10 hari terakhir ini. Untuk hari ini yang paling tinggi titik apinya. Sebelumnya paling 5 atau 4 titik. Selasa kemarin 13 hotspot,” tutur dia. (RAP)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close