NasionalNews

Kemacetan Jakarta Itu Berat, Michael Manson Tak Akan Kuat

Oleh: Suandri Ansah |

Bassist asal Amerika Serikat Michael Manson merindukan kemacetan Jakarta. Faktanya, macet sangat menyusahkan.

Wartamelayu.com, Jakarta — “Terima kasih! Saya ingin kembali lagi… dan mencoba merasakan lagi kemacetan di sini,” ujar Michael Manson, seorang Bassis asal Amerika Serikat saat menutup penampilannya di Java Jazz 2019.

Dari sekian kenangan dari Jakarta yang mengantar pulang ke negerinya, hanya kemacetan yang ingin ia bagikan kepada para penggemarnya. “Oh, my God!” imbuhnya, Ahad (3/3).

Tapi, di sisi lain, dia merasa terhormat bisa turut memeriahkan salah satu panggung Jazz bergengsi di tanah air itu. Dia tampil di Java Jazz pertama kali bersama bandnya.

Manson membawakan karya terbarunya “Up Front” berupa paduan jazz kontemporer, R&B dan gospel itu juga membawakan “Outer Drive” dan “Lovely Day”.

Nada yang dihasilkan dari petikan jemari Masnon membuat suasana Java Jazz menghangat, penonton juga diajak untuk ikut menyanyi dengan dua suara seperti paduan suara. “Funk Medley” menjadi penutup pertunjukan malam itu.

Hadir di tengah pertunjukan, penyanyi muda Indonesia Nima Ilayla yang merupakan putri bungsu Menteri Perikanan dan Kelautan era presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Sharif Cicip Sutardjo.

Nima yang sudah mengeluarkan single bahasa Inggris “Don’t Give a What” dan “I Can Do It All” ciptaan produser Tom Weir menyanyikan dua lagu, “Thank you, next” dari Ariana Grande dan “Killing Me Softly”

Ilustrasi kemacetan, Polisi mengatur lalu lintas untuk mengurai antrean kendaraan menuju kawasan Puncak, Gadog, Bogor, Jawa Barat, Selasa (5/2). Foto: Antara

Betapa Menakutkannya Kemacetan yang Dirindukan Manson
Numbeo, sebuah perusahaan penyedia basis data tentang kota dan negara di dunia menempatkan Jakarta pada urutan ke-7 kota dengan indeks lalu lintas terburuk di dunia.

Jakarta hanya lebih baik dari 6 kota lain di dunia yakni Koltaka (India), Dhaka (Banglades), Mumbai (India), Sharjah (Uni Emirat Arab), Nairobi (Kenya, dan Manila (Filipina).

Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan pusat perekonomian menanggung permasalahan kompleks, terutama di bidang transportasi. Pertumbuhan kepemilikan kendaraan bermotor cukup tinggi.

Kondisi ini diperburuk dengan tambahan ratusan ribu kendaraan luar Jakarta yang bergerak di Jakarta setiap hari. Apalagi banyaknya persimpangan. Selain itu, banyaknya lokasi-lokasi bisnis, sekolah, maupun pusat perbelanjaan di ibu kota membuat lalu lintas kendaraan, terutama pada jamjam sibuk semakin padat.

Jakarta Open Data mencatat sedikitnya ada 28 titik jalan rawan kemacetan yang tersebar di lima kota. Permasalahannya beragam, mulai dari luas jalan yang sempit, angkot ngetem, parkir sembarangan, putar arah, hingga penempatan lampu lalu lintas

The Indonesia Institute pada 2010 melaporkan, gara-gara macet, sektor usaha di rugikan hingga mencapai Rp 12,8 triliun pertahun. Menurut ahli lingkungan dari Universitas Indonesia Firdaus Ali, kerugian masyarakat mencapai Rp 28,1 triliun pertahun dengan rincian;

BBM yang terbuang mencapai Rp10,7 triliun, waktu produktif yang hilang senilai Rp9,7 triliun dan kerugian pemilik angkutan Rp1,9 triliun. Kerugian kesehatan mencapai Rp 5,8 triliun, mengingat kemacetan menyumbang polusi udara tertinggi di Jakarta sekitar 90 persen.

Sementara upaya penambahan panjang jalan sering menghadapi kendala. Keadaan ini berakibat meningkatnya kepadatan lalu lintas di jalan raya yang pada akhirnya menimbulkan titik-titik rawan kemacetan di sejumlah tempat.

Di tahun 2018 Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengungkapkan besarnya kerugian karena macet sebesar Rp6,75 tiriliun. Tapi, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membantah.

Menurut dia, kerugian kemacetan di DKI lebih besar lagi, yakni Rp100 triliun per tahun. “Angka itu dikoreksi oleh Pak Wakil Presiden (Jusuf Kalla), dan kami juga angkanya sama, yaitu Rp100 triliun, bukan Rp 65 triliun lagi, besar,” ujar Anies di Balai Kota DKI Rabu 9 Januari silam.

Angka kerugian yang disebut Anies jika angkanya stagnan selama satu periode kepemimpinannya, setara dengan angka kebocoran anggaran negara yang disebut bocor 25 persen per tahun menurut Capres 02, Prabowo Subianto. Perhitungannya, anggaran negara yang ‘bocor’ mencapai Rp500 triliun.

Untuk mengatasi kemacetan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan berbagai kebijakan, seperti diberlakukannya 3 in 1 yang diganti dengan pembatasan kendaraan ganjil-genap, membangun under pass dan fly over.

Kemudian membangun sarana transportasi massal. DKI Jakarta secara resmi meluncurkan dimulainya megaproyek transportasi cepat masal pada tanggal 2 Mei 2013. Kebijakan lainnya yakni dengan mengintegrasikan angkutan umum dan bus Trans Jakarta atau biasa disebut bus penghubung (feeder busway). (Kbb)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close