Ekonomi

Kurs Rupiah dan IHSG Kompak Menguat

Oleh: Andryanto S

Wartamelayu.com, Jakarta – Kurs atau nilai tukar rupiah dan laju perdagangan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Kamis (22/8) pagi kompak menguat, mengantisipasi kebijakan suku bunga acuan dari Bank Indonesia (BI). Bank sentral dijadwalkan melakukan rapat dewan gubernur untuk menentukan pergerakan suku bunga acuan.

Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak menguat tipis sebesar dua poin atau 0,01 persen menjadi Rp14.238 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp14.240 per dolar AS.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat tipis 4,58 poin atau 0,07 persen menjadi 6.257,55. Saham kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 1,07 poin atau 0,11 persen menjadi 972,62.

Kebijakan BI menjadi perhatian investor dan pelaku pasar karena dapat mempengaruhi perekonomian secara luas. Meski demikian, sejumlah bankir justru memperkirakan BI akan tetap mematok suku bunga acuan “7-Day Reverse Repo Rate” pada Agustus 2019 di level 5,75%.

Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Vera Eve Lim menilai BI tidak kembali menurunkan suku bunga acuan “7-Day Reverse Repo Rate” pada Agustus 2019, meskipun arah kebijakan moneter Bank Sentral kini berorientasi akomodatif kepada pertumbuhan ekonomi.

“Saya melihat ‘stay’ (tetap) ya, karena kita lihat stabilitas, misalnya dari nilai tukar rupiah cukup stabil ya,” ujar Vera Eve Lim di sela seminar yang diselenggarakan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Nusa Dua, Bali, Rabu.

Pada Juli 2019, BI memangkas suku bunga acuannya menjadi 5,75 persen dan melontarkan sinyalemen untuk berlanjutnya pelonggaran suku bunga acuan di sisa tahun.

Namun, Vera melihat penurunan suku bunga acuan BI pada Juli 2019 sudah menimbulkan transmisi ke pasar keuangan. Bank swasta terbesar di Tanah Air itu berencana menurunkan suku bunga kredit untuk Kredit Pemilikan Rumah dan Kredit Kendaraan Bermotor, setelah sebelumnya menurunkan suku bunga simpanan sebesar 50 basis poin.

“Kita lihat tren ya, bank juga ikutin tren, karena kalau suku bunga BI turun, bank juga ikuti penurunannya,” ujar dia.

Selain bunga KPR dan KKB, yang merupakan sektor konsumsi, Vera mengatakan BCA juga akan menyesuaikan suku bunga korporasi.

BI pada Juli 2019 memangkas suku bunga acuannya setelah delapan bulan berturut-turut mempertahankan kebijakan netral dengan suku bunga acuan enam persen. Pelonggaran kebijakan suku bunga acuan itu dimulai dengan pelonggaran likuiditas melalui penurunan Giro Wajib Minimum Rupiah sebesar 0,5 persen menjadi enam persen.

Pelonggaran kebijakan moneter dilakukan setelah BI melihat sinyalemen rezim kebijakan moneter longgar oleh sejumlah negara untuk mengantisipasi perlambatan pertumbuhan ekonomi global.​​​​​

Dari domestik, Bank Sentral menganggap laju inflasi yang semakin terkendali semakin mendukung langkah BI untuk memulai penurunan suku bunga acuan tahun ini.

BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi domestik pada 2019 dapat berada di kisaran 5,0-5,4 persen. Pelonggaran likuiditas dan suku bunga diharapkan BI dapat menstimulus pertumbuhan ekonomi dan mendorong pertumbuhan kredit perbankan ke 12 persen (year on year/yoy).(Rap/*/Dry/Ant/INI Network)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close