OPINI

Mahfud MD, Enzo, dan Kalimat Tauhid

Oleh: Herry M Joesoef

Wartamelayu.com, Jakarta – Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Mahfud MD, melontarkan pernyataan yang mengundang kontroversi. Kali ini ia mengomentari lolosnya Enzo Zens Allie sebagai Taruna Akmil.

Mahfud menuding pihak Akmil kecolongan dengan lolosnya Enzo. Hal itu, menurut Mahfud, Enzo terindikasi sebagai bagian dari jamaah HTI. Pihak Akmil sedang mendalami kasusnya, tapi Mahfud MD telah memvonisnya dengan begitu lantang dan kejam. Padahal, selama ini, HTI itu kumpulan orang-orang terpelajar, dan beredar di kalangan mahasiswa keatas. Tidak ada doktrin HTI untuk memberontak secara fisik kepada pemerintahan. Ide-ide yang diusungnya selalu dimunculkan lewat wacana dan terbuka.

Enzo adalah anak yang baru lulus SMA, ia pernah di pesantren dan bangga dengan bendera Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang berisi kalimat tauhid. Mereka yang kagum dengan bendera Rasulullah tidak otomatis anggota HTI. Dan jangan memposisikan HTI sebagaimana PKI yang telah melakukan makar terhadap pemerintah Indonesia sebanyak 2 kali (tahun 1948 dan tahun 1965). HTI dibubarkan berdasarkan Perppu Nomor 2 Tahun 2017; sedangkan PKI dibubarkan berdasarkan Surat Keputusan No I tertanggal 12 Maret 1966, yang diperkuat dengan TAP MPRS Nomor 25 yang dikeluarkan pada 5 Juli Tahun 1966. Memperlakukan anggota HTI seperti memperlakukan orang-orang PKI adalah tindakan yang tidak pada tempatnya.

Dalam bahasa Arab. bendera dikenal dengan nama liwa’, jamaknya: alwiyah. Riwayat yang masyhur menyebutkan bahwa warna dasar liwa’ adalah putih dengan tulisan warna hitam.

Selain liwa’, umat Islam juga mengenal rayah (panji perang), berbentuk segi empat dengan warna dasar hitam dengan tulisan berwarna putih. Baik liwa’ maupun rayah, keduanya bertuliskan kalimah tauhid: La ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah.

Dalam sebuah peperangan, baik di jaman Rasulullah maupun di jaman Khalifah-ur Rasyidin, liwa’ dan rayah selalu menjadi penyemangat pasukan. Rayah adalah panji yang dipakai oleh seorang pemimpin atau panglima perang. Sedangkan liwa’ berfungsi sebagai penanda posisi dimana pemimpin atau panglima perang berada di medan tempur. Dimana panglima perang berada, disana ada seorang yang diberi amanah untuk membawa dan mengibarkan liwa’.

Tentang rayah dan Liwa’ ini, ada kisah heroik ketika terjadi perang Mu’tah, sebuah desa di daerah Balqa’, Syam. Perang terjadi di bulan Jumadal Ula tahun 8 Hijriyah (sekitar 629 Masehi). Sebanyak 3000 pasukan Muslim berhadapan dengan 100.000 pasukan Romawi Timur yang kafir.

Pasukan yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah Radhiyallahu anhu itu dilepas oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam seraya berpesan, “Bila Zaid terbunuh, maka Ja’far bin Abi Thâlib yang menggantikan. Dan bila Ja’far terbunuh, Abdullâh bin Rawahah yang menggantikan.”

Zaid bin Haritsah Radhiyallahu anhu dengan membawa rayah di tombaknya, maju ke medan laga, dengan penuh semangat, menerjang barisan musuh. Takdir tak dapat dielak. Zaid syahid di medan tempur.

Rayah diambil-alih oleh Ja’far bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, saudara Ali bin Abi Thalib yang juga sepupu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Ibnu Hisyâm meriwayatkan bahwa Ja’far bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu memegang rayah dengan tangan kanannya. Tetapi tangan kanan itu ditebas musuh dengan pedang. Tangan kanan putus, berganti dengan tangan kiri, juga putus oleh sabetan pedang musuh. Tangan kanan-kiri putus, rayah didekap dengan pangkal lengannya hingga ia gugur.

Posisi Ja’far digantikan oleh Abdullâh bin Rawahah Radhiyallahu anhu dan ia pun menerjang maju yang membuatnya menjemput syahidnya. Dalam keadaan pertempuran yang tidak berimbang secara jumlah, sebagian pasukan sudah mulai kendor, rayah tak boleh tidak harus tetap berkibar. Maka, atas inisiatifnya, rayah diambil  Tsabit bin Arqam al-‘Ajlani. Diatas kudanya, dengan memegang rayah, Tsabit berseru, “Wahai kaum Muslimin, tunjuklah seseorang agar memimpin kalian!”

Akhirnya, sebagian besar pasukan bersepakat menunjuk Khalid bin Walid, yang belum lama memeluk Islam, sebagai panglima. Di tangan kepemimpinan Khalid, pasukan Islam bisa diselamatkan, dan pasukan Romawi Timur mundur dari medan laga.

Begitulah kisah heroik generasi Sahabat dalam mempertahankan kalimah tauhid. Begitu agungnya kalimah tauhid itu dipertahankan dengan titik darah penghabisan.

HTI bisa dilarang keberadaannya, tetapi kalimat tauhid tidak boleh ditiadakan di bumi Nusantara ini. Inilah yang sekarang kian rancu. Bahkan, seorang profesor setingkat Mahfud MD yang nota bene anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, tidak bisa memahaminya. Ia gagal memilih dan memilah antara bendera HTI dengan kalimat tauhid.

Jika umat Islam sudah alergi dengan kalimat tauhid, maka hilang pula eksistensi Ke-Islam-an seseorang. Ini berbahaya secara akidah, kecuali bagi mereka yang munafik: bajunya Islam, hatinya kufar. Wallahu A’lam. (RAP/HMJ/INI Network)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close