FeatureKhazanahNusantara

Masjid SMB Jayo Wikramo Bukti Warisan Kesultanan Palembang

Oleh: Alwi Alim

Wartamelayu.com, Palembang — Bertempat dipusat kota, dengan nuansa yang bergaya Cina. Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) I Jayo Wikramo berdiri kokoh meski telah berusia ratusan tahun lamanya.

Ikon kebanggaan Kota Palembang ini tidak pernah sepi dari jemaah yang datang silih berganti untuk salat dan singgah untuk melihat keunikan disetiap sisi dari masjid tersebut.

Berawal pada tahun 1738 masjid ini mulai dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I atau dikenal sebagai Jayo Wikramo.

Bangunan aslinya berbentuk bujuk sangkar dengan atap limas bersusun ditambah ornamen berundak berwarna emas yang disebut dengan mustaka. Atap masjid ini berdiri dua tingkat seperti kepala dan tubuh yang terpisah oleh leher.

Disetiap berundak mempunyai jurai kelompok simbar atau tandung kambing yang dipasang sebanyak 13 buah disetiap sisi. Masjid ini juga dipercantik gerbang serambi masuk dibagian timur, selatan dan utara.

Sekretaris Panitia Ramadhan pada Yayasan Masjid Agung Palembang, Syukri Mascik Azhari mengatakan masjid ini merupakan bagian dari peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam dan salah satu masjid tertua di Kota Palembang.

Masjid ini berada dahulunya berada disisi Utara Istana Kesultanan Palembang atau dibelakang Benteng Kuto Besak dan berdekatan dengan aliran Sungai Musi.

Seiring dengan waktu, masjid ini kini berada dipusat kota atau tepatnya di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I Palembang.

“Masjid ini dibangun memakan waktu hampir 10 tahun lamanya,” kata Syukri saat ditemui di Masjid Agung Palembang, Selasa (14/5).

Setelah dibangun Masjid utama, pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamuddin kembali dibangun menara masjid yang berada dilokasi terpisah dari bangunan utama. Menara masjid ini berbentuk segi enam dengan tinggi mencapai 20 meter.

Menara ini menyerupai kelenteng dengan bentuk atap menara melengkung pada bagian ujung. Kemudian, memiliki teras berpaga yang mengelilingi bangunan menara.

Perbaikan dan pemugaran pun kembali dilakukan akibat dampak dari peperangan besar yang terjadi di Kota Palembang pada tahun 1821. Dalam perbaikan tersebut, Masjid agung ini mendapatkan tanah wakaf hingga dilakukan perluasan hingga menjadi 5 hektar dengan daya tampung mencapai 7.750 jemaah.

Tak hanya dilakukan perluasan. Menara baru masjid kembali dibangun dengan ketinggian mencapai 45 meter mendampingi menara asli yang bergaya Cina.
“Renovasi ini baru diselesaikan pada tahun 1971,” katanya.

Seiring dengan berjalannya waktu, Masjid Agung ini mengalami perbaikan hingga kini luasan masjid mencapai 15 hektar dengan daya tampung mencapai 15 ribu jemaah.

Pada tahun 2003, masjid ini ditetapkan sebagai Masjid Agung Palembang yang merupakan masjid nasional dan warisan budaya masa lalu. Masjid ini pun dilindungi oleh Undang-Undang karena termasuk sebagai Cagar Budaya. Dan kini, Masjid Agung Palembang pun ditetapkan sebagai objek vital nasional bidang kebudayaan dan pariwisata.

“Kami harap masjid ini menjadi masjid teladan, dan menjadi pusat pembinaan umat dan ukhwah Islamiyah di Sumsel,” ujarnya. (RAP)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close