FeatureNusantara

Mengintip Rumah Berusia 300 Tahun di Pasar Baba Boentjit

 

Oleh: Rio AP

Wartamelayu.com, Palembang — Kota Palembang tidak hanya gudangnya makanan atau kuliner enak. Namun, ibu kota Sumatera Selatan ini juga memiliki beberapa destinasi wisata yang cukup keren. Beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi bagi pelancong itu adalah Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak (BKB), Pulo Kemaro, Monpera, Kampung Al-Munawar dan masih banyak lagi.

Jika bosan dengan tempat itu-itu saja, ‘wong kito’ maupun pelancong dari luar kota pempek bisa memilih destinasi wisata yang berada di tepian Sungai Musi, yakni Pasar Baba Boentjit. Pasar tersebut dikenalkan langsung oleh Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Provinsi Sumatera Selatan.

Letak Pasar Baba Boentjit berlokasi di Rumah Oeng Boentjit, Lorong Saudagar Yucing, Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang. Rumah ini pun diketahui sudah berusia 300 tahun dan masih berdiri kokoh di tepian Sungai Musi dengan ornamen Tiongkok, serta ukiran khas Kota Palembang dengan nilai sejarah tersendiri.

Untuk mencapai lokasi itu, pengunjung dapat menyeberang dari dermaga BKB dengan menggunakan speedboat atau perahu kecil yang biasa disebut oleh masyarakat sekitar sebagai ketek. Sekali menyeberang menggunakan ketek, pengunjung cukup membayar Rp10.000 per orang.

Dalam perjalanan menuju lokasi, pengunjung juga akan disuguhkan pemandangan indah, baik Jembatan Ampera, Kampung Warna Musi Bercorak dan Jembatan Musi IV yang berdiri megah. Sekitar 5 menit, pengunjung akan sampai di rumah pedagang terkenal tempo dulu yang kaya akan nilai budaya lokal.

Setibanya di sana, nampak para pengunjung sedang asik melakukan foto hunting dan bermain layaknya berada di perkampungan dengan konsep yang sangat instagramable. Ada juga pasangan suami istri yang tengah asik menikmati ayunan yang terletak di lokasi tersebut.

“Rumah Oeng Boentjit ini sudah berusia sekitar 300 tahunan. Baba Oeng Boentjit sendiri adalah seorang saudagar yang sangat terkenal pada masanya,” ujar Ani yang menghuni rumah berusia ratusan tahun itu, Sabtu (25/5).

Wanita keturunan kedelapan dari Baba Ong Boentjit ini menjelaskan juga, Rumah Ong Boentjit ini berbentuk rumah khas Palembang, namun dengan interior dan ornamen Tiongkok. Sehingga pengunjung yang datang dapat menikmati pesona ornamen-ornamen dan sejarah dari rumah tersebut.

“Sudah banyak masyarakat yang penasaran dan berkunjug ke sini, apalagi kalau ke sini lebih praktis menyeberang dengan naik perahu. Itu juga menarik buat mereka,” kata wanita berusia 46 tahun ini.

Biasanya setiap akhir pekan, lanjut Ani, di halaman depan rumah ini ada pula kuliner atau jajanan khas Palembang yang dijual. Mulai dari Pempek, Pindang Daging, Es Kacang Merah, Kue-kue dan masih banyak lagi. Itu juga dijual oleh masyarakat sekitar.

“Namun, akhir pekan ini sedang tidak berjualan karena sungai sedang pasang. Meski begitu, pengunjung juga tetap banyak yang berdatangan untuk berkunjung ke Rumah Baba Boentjit ini,” katanya.

Selain itu, kata dia, di akhir pekan juga sering mengadakan kegiatan. Dimana sebelumnya pihaknya memperkenalkan beberapa kegiatan tradisional pada generasi zaman now dan kegiatan tersebut sangat antusias disambut oleh masyarakat yang berkunjung.

“Kedepan kita akan hadirkan kegiatan-kegiatan lainnya dan tentunya itu nanti akan menjadi suguhan yang benar-benar menarik bagi pengunjung yang datang kemari,” kata dia.

Salah seorang pengunjung Pasar Baba Boentjit bernama Nora, mengatakan ia mengetahui destinasi wisata baru tersebut dari Instagram yang sering diunggah oleh teman-temannya. Melihat dari postingan teman itu, ia tertarik dan langsung mengunjungi lokasi tersebut.

“Saya tau-nya dari Instagram kak. Di lokasi ini juga memang banyak spot menarik yang instagramable bagi kami, karena saya suka berfoto-foto,” ujar gadis berusia 24 tahun ini.

Hal senada dikatakan, pasangan suami istri Gusti dan Luny, mereka memilih destinasi wisata ini karena tempat tersebut masih baru di Kota Palembang. Menurutnya, di sana juga ada beberapa spot dengan konsep kekinian yang cocok untuk berfoto.

“Konsepnya bagus dan unik. Lalu, kalau kita masuk ke rumah Baba Boentjit ini banyak nilai sejarah. Tak hanya itu, di sana kita bisa merasakan bagaimana kehidupan masyarakat jaman dulu di tepuan Sungai Musi, pokoknya menariklah,” tuturnya. (RAP)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close