Nusantara

Menilik Keindahan Kain Songket Palembang

Oleh: Rio AP

Wartamelayu.com, Palembang — Ada benang bewarna merah, lalu biru, dan juga putih yang berpadu dengan benang emas akhirnya membentuk menjadi corak yang istimewa. Ya, perpaduan itulah menjadi sebuah kain yang merupakan ciri khas Kota Palembang, yakni kain songket.

Perpaduan benang yang menjadi songket berukuran 2×4 meter dengan berbagai motif mulai dari Lepus, Beranti hingga Tabur merupakan hasil karya dari Songket Serengam Setia di Jalan Ki Gede Ing Suro, Kelurahan 32 Ilir, Kota Palembang.

Songket-songket itu dijual mulai dari harga Rp1,5 juta hingga Rp5 juta sesuai motif dan tingkat kesulitan tenunan songket. Meski tergolong mahal, kain ini tetap menjadi primadona dan diburu masyarakat baik di Kota Palembang hingga luar negeri.

Pemilik Songket Serengam, Nyimas Ida Mahidin, mengatakan kehadiran songket di kota yang terkenal dengan ikon Jembatan Ampera ini sudah sejak lama, bahkan pada zaman Kesultanan di Kota Palembang. Menurutnya, pada zaman dahulu, songket ini diperuntukkan untuk baju hingga pakaian pengantin dengan motif yang belum terlalu banyak di antaranya yakni Bungo Lepus dan lainnya.

Seiring dengan waktu, dia menyampaikan, kain tenunan tersebut pun terus berkembang dan berinovasi hingga muncul berbagai motif dan perpaduan warna.

“Ya, dulu itu sangat sulit untuk mendapatkan bahan baku terutama benang emas. Namun, kini bahan baku songket sudah lebih ringan,” ujar dia di Palembang, Sabtu (7/9).

Dia menuturkan, untuk membuat satu songket, bukanlah perkara mudah. Apalagi, sambung dia, untuk motif lepus atau corak penuh. Waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan yakni mencapai tiga bulan, karena memang harus menentukan pola dan ditenun menggunakan tenaga manusia.

“Tapi, beruntung saat ini masih banyak para penenun songket sehingga hingga kini kain songket tetap dapat diproduksi,” kata ibu empat anak ini.

Dari sejarah itulah, keluarganya pun kemudian berinisiatif untuk membuka usaha songket pada tahun 1973. Dimana sejak awal dijalankan oleh neneknya dan diturunkan kepada orang tuanya yakni Kms Mahidin Ahmad dan Nyayu Sadiah. Hingga akhirnya estafet usaha tersebut diturunkan kepadanya.

Menurut dia, ketertarikannya menjalankan usaha songket ini karena kain tersebut merupakan ciri khas Kota Palembang yang harus tetap dijaga dan jangan sampai hilang oleh perkembangan zaman.

“Saya sangat senang melihat songket karena ada khas sendiri yang tidak dimiliki oleh daerah lainnya,” ucap ibu kelahiran tahun 1976 ini.

Ketertarikannya di songket ini pun membuatnya mengoleksi beberapa songket lama. Tercatat hingga kini ada lima songket lama yang simpannya diantaranya motif nago besaung serta kemben bungkun. “Songket lama ini ada yang merupakan warisan nenek dan ada juga yang dibeli dari kolektor,” ujarnya.

Menurutnya, songket lama ini dilihat artistik dari songket saat ini. Karena itu, ia mengaku tidak heran jika songket lama lebih mahal harganya mulai dari Rp5 juta hingga ratusan juta rupiah. Bukan itu saja, untuk mendapatkan songket lama ini, dirinya pernah membeli langsung ke Bali.

“Terkadang saya mendapatkan songket yang rusak dan perlu perbaikan kembali. Tapi biasanya songket-nya juga masih bagus-bagus karena dijaga,” tutur dia. (RAP)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close