Politik

PKS Akan Hadir Jika Diundang ke Reuni 212

Oleh: Muhajir

Wartamelayu.com, Jakarta – Pada 2 Desember 2019 medatang, Persatuan Alumni 212 (PA 212) berencana akan menggelar reuni. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengaku akan hadir jika mendapat undangan.

“Kalau diundang, iya. Kita diundang oleh lawan kita datang kok, apalagi kalau diundang oleh sesama muslim,” kata Bukhori kepada Indonesiainside.id di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (7/11).

Reuni 212 berawal dari aksi unjuk rasa umat Islam pada 2 Desember 2016 di Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Aksi itu dipicu oleh pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang mengatakan Al-Maidah 51.

Acara tersebut berlanjut pada tahun berikutnya dan menjadi agenda tahunan PA 212. Kemudian pada 2018 reuni 212 kembali digelar dihadiri Prabowo Subianto yang menyandang status calon presiden Pilpres 2019.

Bukhori menjelaskan bahwa tidak ada yang salah dengan gerakan 212. Ini karena berkumpul menyampaikan aspirasi adalah hak semua anak bangsa. Sepanjang tidak melalui pengrusakan dan tidak melanggar Undang-Undang maka kegiatan reuni maka tidak ada yang perlu dipermasalahkan. “Itu kan kegiatan yang sah sah saja,” ucapnya.

Melihat dinamika publik akhir-akhir ini, Bukhori mengatakan reuni 212 berpotensi dikaitkan dengan isu radikalisme. Menurut dia, pemakai cadar dan celana cingkrang saja dilabeli radikal, apalagi kelompok 212.

“Jadi kalau mengkaitkan, sangat bisa mengkaitkan. Cuma sebagai bangsa Indonesia. Sepanjang tidak ada indikasi indikasi negatif dan destruktif, kita sebagai bangsa, sebagai pemimpin, wajib berprasangka baik. Itu penting,” katanya.

Dia mengatakan, tidak ada alasan untuk menyalahkan kelompok 212. Apalagi, pada setiap gerakan yang mereka lakukan selalu diwarnai dengan tertib dan damai. Bahkan mendapat apresiasi yang luar biasa dari dunia internasional.

“Salah satu yang penting adalah gerakan 212 itu adalah memberikan satu contoh yang belum pernah terjadi dalam peristiwa di Jakarta yang begitu besar selama 50 tahun terakhir,” ucapnya.

Meski massa yang datang mencapai angka jutaan, tapi mereka tak melakukan pengrusakan. “Mereka jutaan tapi dalam keadaan tertib. Kalau seperti itu ditandai sebagai tindakan makar, tentunya terlalu dini,” katanya. (RAP/EP/INI Network)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close