Feature

Sejarah Kopi Sumsel dari Zaman Belanda hingga Kini

Oleh: M. Sofuan

wartamelayu.com, Palembang– Secara nasional kopi Sumatera Selatan memang belum terkenal gaungnya. Tetapi Sumsel sudah lama dikenal sebagai produksi kopi Robusta di pulau Sumatera, dan Sumsel sebagai penyumbang 20 persen ekspor kopi nasional untuk jenis Robusta.
Salah satu kopi Sumsel yang terkenal adalah Semendo, bahkan kopi ini menjadi salah yang sering dinikmati Ratu Belanda, Yuliana.

Nama Semendo sendiri sebenarnya diambil dari salah satu daerah didataran tinggi Kabupaten Muara Enim.
Daerah ini selain terkenal dengan penghasil kopi, juga terkenal dengan penghasil tambang yaitu Batubara dan minyak bumi.

Di Sumsel sendiri banyak Kabupaten penghasil Kopi selain Muara Enim, ada Kabupaten Lahat dan Kota Pagar Alam, ketiga daerah ini sudah terkenal kenikmatan kopi bahkan kebunnya juga sebagian besar merupakan peninggal Belanda yang masih menghasilkan hingga sekarang.

Ironis Sumsel mempunyai kebun terluas, tetapi namanya masih kalah terkenal dengan kopi Lampung. Bahkan kopi Lampung itu pun berasal dari Sumsel.

Sejarawan Sumsel Syafruddin Yusuf, tanaman kopi memang berasal dari Afrika dan dari Arab (Yaman) kemudian masuk ke Indonesia awal abad 18 dibawa Belanda dan masuk Indonesia sekitar tahun 1709

Awalnya tanaman kopi dilakukan uji coba penanamannya di daerah Parahyangan, Jawa Barat (Jabar).
Tahun 1711 itu pengelolaan tanaman kopi diserahkan dari VOC ke Belanda, dari situlah tanaman kopi berkembang.

Di Palembang sendiri, menurutnya kopi belum menjadi primadona, karena tahun 1710 saat ditemukan timah, Belanda lebih mengurus timah karena lebih menjanjikan termasuk di Palembang dengan mengolah tambang timah di Bangka.
“kopi pada waktu itu lebih dikembangkan di Jawa dan barulah akhir abad 18 kopi masuk ke Sumsel,” Yusuf.

Ditahun 1890 ada perkebunan di Pagaralam dengan luas 37 ribu hektar termasuk tanaman kopi di Pagaralam ini, apalagi selama masa kesultanan Palembang , Pagaralam dan sekitarnya merupakan daerah yang bebas sehingga Belanda tidak bisa masuk. Baru tahun 1867 Pagaralam bisa di duduki Belanda dan pada tahun 1870 hama kopi sempat merusak perkebunan kopi di Parahyangan sehingga Belanda mencoba bibit kopi ke Sumsel.

Menurutnya, Belanda tidak hanya menyuruh masyarakat menanam kopi malahan tahun 1890 itu sudah ada 21 perusahaan asing yang mengembangkan kopi di Pagaralam baik dari Belanda dan Inggris .

“Uniknya Belanda juga ikut membina masyarakat setempat dengan cara menanam kopi termasuk panennya dan segala macam sehingga kopi yang dihasilkan berkualitas tinggi,” jelasnya.
Dikatakannya memajukan kopi dia sepakat agar mindset masyarakat dalam pengelolaan kopi harus di ubah tidak lagi tradisional.

Dituturkannya melihat rendahnya kualitas kopi Sumsel harus di atasi dengan perubahan mind set dari setiap petani kopi di Sumsel agar lebih baik.

“Harus diakui orang-orang di Sumatera ini adalah orang-orang yang keras, beda dengan di Jawa, dari sisi penjajahan sebenarnya Sumatera ini tidak terlalu menderita, saya memberi contoh begini tahun 1830 Belanda menerapkan sistim tanam paksa, mewajibkan masyarakat untuk menanam salah satunya kopi, itu bisa jalan di Jawa, di Sumatera tidak jalan, sampai 1870 sistim tanam paksa masih jalan, Sumsel termasuk daerah diperhitungkan Belanda karena sering melakukan perlawanan, walaun tahun 1925 Kesultanan Palembang dihapuskan tapi perlawanan di daerah masih berlanjut sampai tahun 1870,” katanya.

Sumsel menurutnya, pernah produksi kopi Sumsel sangat tinggi untuk di Indonesia malahan sampai tahun 1900 produksi kopi Sumsel sangat tinggi.

“ Sekarang bagaimana mengembalikan kejayaan kopi Sumsel, supaya menjadi nilai tambah bagi masyarakat kita untuk meningkatkan kemajuan daerah kita,” katanya.

Ketua Dewan Kopi Sumsel (DKS) Zain Ismed menurutnya, untuk lingkup Sumsel kopi yang lebih dominan adalah kopi robusta, walaupun ada juga kopi arabika dikembangkan di Sumsel.

Walaupun demikian dia melihat produksi kopi di Sumsel masih rendah , jadi jika diibaratkan 1 hektar bisa petani kopi Sumsel bisa mendapatkan 0,6 sampai 0,9 ton pertahun, ini kalah jika di bandingkan dengan Vietnam bisa menghasilan 2,5 sampai 3 ton kopi pertahun.

“ Ini peluang, kenapa Vietnam bisa artinya kita harus bisa harus dengan tata budidaya yang baik, pasca panen juga dengan baik, ini dapat kita gandangan , jika itu terjadi maka perekonomian di Sumsel bergerak cepat karena bisa di gandakan sampai lima kali,” katanya.

Berdasarkan pola tanam kopi di Sumsel menurutnya masih menggunakan cara tradisional yang sudah dilakukan secara turun temurun.

Dijelasnnya pengembangan kopi di Sumsel harus dilakukan secara simultan dimana dihilir tetap dilakukan pembinaan apalagi sekarang trendnya banyak anak-anak muda turun ikut pengelola kopi.

“ Bagi kita kopi ini bukan hanya komoditas ekonomi tapi punya sejarah, punya budaya, artinya luar bisa dan sekarang harus kita rangkai kembali , karena pekerjaan rumah dewan kopi ini banyak sekali, kita harus melibatkan banyak orang, wartawan untuk publikasi, karena banyak tidak tahu, kebun kopi terluas di Indonesia ada di Sumsel, khan ironis, kemudian ada ekspor kopi tapi tidak melalui Sumsel, ini kita pelajari,” tuturnya. (NS)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close