Humaniora

Telok Abang, Tradisi Palembang Jelang HUT Kemerdekaan RI

Oleh: Rio AP

Wartamelayu.com, Palembang — Di Kota Palembang, Sumatera Selatan ada sebuah tradisi bernama telok abang pesawat gabus. Tradisi ini hanya muncul di kota yang terkenal dengan ikon jembatan Ampera menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

Menjelang momen tersebut, para penjual telok abang pesawat gabus akan mulai bermunculan dengan harapan masih banyak anak-anak yang bermain dan membeli mainan tradisional khas Palembang di era digital seperti saat ini.

Seorang pengrajin pesawat gabus, Ahmad Zakaria (45), mengatakan, sejak tiga tahun terakhir pesanan mainan itu justru mengalami penurunan. Menurut dia, biasanya sebulan sebelum perayaan HUT RI ia bersama pengrajin lainnya banjir orderan, namun kini cenderung sepi.

“Biasanya bulan Juli sudah banyak pesanan bisa 1.000 atau lebih yang pesan, tapi sekarang paling hanya 500 buah,” kata Zakaria saat ditemui di tempat tinggalnya di kawasan Silaberanti, Plaju, Palembang, Senin (29/7).

“Ya, saya kurang tahu apa ini karena bareng dengan anak masuk sekolah atau karena zaman sudah canggih jadi anak-anak tak begitu tertarik dengan mainan ini,” kata dia lagi.

Dia menjelaskan, usaha ini sudah turun menurun dijalankannya sejak 15 tahun silam. Belakangan ini ia kerap menemui kendala soal bahan baku. Menurutnya, untuk membuat mainan telok abang pesawat gabus ini, ia masih menggunakan bahan akar kayu gabus asli yang telah dikeringkan selama sepekan.

“Kami tidak pakai styroform, kalau aslinya memang sejak jaman nenek-kakek saya pakai kayu gabus. Sekarang cukup sulit mendapatkan bahannya harus pesan dari Prabumulih. Itupun kadang dapat, kadang juga tidak karena banyak lahan saat ini dibangun pertokoan atau rumah dan lainnya. Makanya, banyak yang sekarang jual dengan bahan styroform,” jelasnya.

Ia menambahkan, bermodalkan Rp250 ribu mendapat satu karung akar kayu gabus ukuran 100 kilogram. Dengan jumlah itu, ia dapat membuat sekitar 100 mainan telok abang pesawat gabus. Jika sudah selesai, selanjutnya dijual ke pedagang yang memesan dengan harga Rp20.000 untuk satu mainannya.

“Dalam proses pembuatannya butuh waktu setengah jam untuk satu mainan, sehari paling bisa 10 buah mainan sekarang,” katanya.

Dia berharap, mainan khas yang hanya bisa dijumpai di Kota Palembang ini bisa menjadi perhatian pemerintah setempat. Sebab, menurut dia, hingga kini belum ada bantuan bagi pengrajin agar tetap bisa bertahan.

“Kalau bantuan dana ataupun lainnya belum pernah sama sekali, seandainya pemerintah membantu kami bersyukur sekali. Atau misalnya mengadakan festival telok abang pesawat gabus, sehingga tetap bisa dilestarikan meski zaman makin maju,” tuturnya. (RAP)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close