Nasional

Titik Panas Karhutla Diprediksi Terus Berlangsung hingga Pertengahan Oktober

Oleh: Suandri Ansah

Wartamelayu.com, Jakarta – Mengutip Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan potensi terjadinya titik panas dan asap masih dapat berlangsung hingga pertengahan Oktober. Seiring dengan masih berlangsungnya periode musim kemarau di sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi memaparkan, bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi 99% disebabkan akibat perbuatan manusia. Berdasarkan data KLHK sampai 31 Agustus 2019 menunjukkan luas areal lahan dan hutan yang terbakar seluas 328 ribu hektar.

“Artinya masih 35% lebih rendah dari luas areal terbakar pada tahun 2018 yang mencapai 510 hektar,” ujarnya.

Luas areal terbakar tahun 2019 itu terbagi di lahan gambut seluas 89 ribu, dan di lahan tanah mineral seluas 239 ribu ha. Data ini, menurut KLHK, mengkonfirmasi jika perlindungan areal gambut di Indonesia lebih baik karena luas areal terbakar tidak didominasi pada areal gambut yang sulit dipadamkan.

BMKG menyatakan, jika pada Oktober hingga pertengahan Bulan November kondisi terjadinya hotspot masih cukup tinggi, BMKG bersama BNPB telah bersiap melakukan hujan buatan.

“Bibit-bibit awan sudah mulai ada, sehingga sudah bisa dilakukan pembuatan hujan buatan. Di Riau dan Palembang sudah dilakukan pembuatan hujan buatan, untuk Kalimantan Barat masih menunggu terbentuknya bibit awan guna penyemaian garam untuk hujan buatan,” jelasnya.

Kegiatan modifikasi cuaca (TMC) dengan pembuatan hujan buatan hingga tanggal 6 September 2019 telah dilakukan 207 kali sorti dengan jumlah garam yang ditaburkan mencapai 160.816 kilogram.

Dari sisi penegakan hukum, KLHK bekerja sama dengan Kepolisian RI telah menyegel area konsesi dari 18 perusahaan. Secara rinci, di Kalimantan Barat sebanyak 10 perusahaan, di Jambi 1 perusahaan, di Riau ada 3 perusahaan dan di Kalimantan Tengah ada 4 perusahaan.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai, lemahnya pengawasan upaya restorasi ekosistem gambut, khususnya pada kawasan konsesi mengakibatkan penanganan karhutla tidak mengalami kemajuan, bahkan semakin memburuk.

Kesimpulan itu didasari pada peningkatan data hotspot saat ini. Berbanding terbalik dengan pernyataan pemerintah, upaya restorasi (infrastruktur, pembasahan ekosistem gambut, dan upaya vegetasi kembali) ditemukan di lapangan justru lebih konsisten dilakukan oleh masyarakat.

“Upaya restorasi tidak akan berjalan efektif menekan karhutla, selama upaya penegakan hukum masih lemah, tidak ada review izin serta audit lingkungan terhadap konsesi, terlebih kami menilai upaya restorasi ekosistem gambut tidak serius dilakukan pada kawasan konsesi,” ujar Manajer Kampanye Eksekutif Nasional Walhi, Wahyu A. Perdana. (Rap/*/Dry/INI Network)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close