NusantaraRamadhan Kita

Tradisi Rumpak-rumpakan di Kampung Arab Palembang Ada Sejak 3 Abad Lalu

 

Oleh: Rio AP

Wartamelayu.com, Palembang — Ada sejak 3 abad lalu, tradisi rumpak-rumpakan hingga kini tetap lestari di kalangan masyarakat keturunan Arab di Kampung Arab, 10 Ilir, Kota Palembang. Tradisi ini selalu berlangsung di suasana Idul Fitri seperti saat ini.

Pengurus mushola Al Kautsar 10 Ilir Palembang, Farhan Syech Abu Bakar mengatakan, tradisi Rumpak-rumpakan ini memang sudah turun temurun dilaksanakan oleh kaum muslimin, khususnya yang tinggal di Kampung Arab Palembang.

Setelah semua rangkaian prosesi ibadah, ia mengatakan para jamaah akan mulai tradisi mengitari isi mushola untuk saling bermaaf-maafan dengan jamaah yang ada sambil meresapi makna idul Fitri. Selanjutnya para jamaah dihidangkan makanan untuk di makan bersama-sama.

Dikatakannya, tradisi ini sendiri sudah ada di Kota Palembang sejak lama bahkan, mencapai usia ratusan tahun semenjak mushola ini didirikan pada abad ke 18.

“Tradisi ini memang dijalankan kakek-kakek kita dahulu saat momen mereka merayakan Idul Fitri dengan cara sholat berjamaah, takbiran, mendengarkan ceramah setelah itu. Salaman untuk maaf-maafan dan dihidangkan makanan alakadarnya,” ujar Farhan di Palembang, Sabtu (8/6).

Selain itu, kata dia, makanan alakadarnya yang dihidangkan merupakan sajian dari masyarakat maupun pengurus masjid. Mulai dari kuah kari dan daging, nasi, aneka hidangan lain, serta roti.

“Setiap tahunnya pengurus masjid menyiapkan makanan alakadarnya. Warga juga ikut memberikan sumbangan makanan. Ada Nasi putih dengan lauk kari, roti dengan Kari yang dihidangkan untuk 4 orang dalam satu wadah,” katanya.

Selesai menyantap hidangan, para jamaah kembali bersiap-siap untuk keliling ke rumah warga. Momen ini dilakukan sebagai bentuk silahturahmi kepada warga kampung arab. Adapun biasanya para pengurus mushola lah yang akan membuka rumahnya untuk didatangi.

Usai proses ibadah lalu, menyantap makanan warga di sini melakukan jalan dari satu rumah ke rumah lain. Biasa yang buka rumah yang aktif di mushola. Dalam rumah tadi warga setempat akan melalukan pujian untuk rasululah, biasa dipimpin oleh orang yang memiliki lantunan suara yang baik.

“Setelah baca alfatihan, doa, baru nanti ada hidangan. Lalu berdiri melanjutkan ke rumah berikutnya,” kata dia lagi.

Tradisi keliling tersebut merupakan rangkaian dari Rumpak-Rumpakan. Masyarakat biasanya memanfaatkan dua hari Idul Fitri untuk bersilahturahmi.

“Biasa keliling dua hari. Dari pagi sampai siang dengan adanya rumpakan semua akan berjalan lebih baik, silahturahmi akan terjaga. Dengan Idul Fitri yang jarang ketemu akan kembali bertemu,” tuturnya. (RAP)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close