InternasionalNews

Turki Mengambil Alih Perang Melawan DAESH di Suriah

Presiden Erdogan mengatakan Turki akan mengambil alih tugas AS memerangi kelompok-kelompok DAESH di Suriah

Jakarta — Amerika Serikat dan Turki sepakat untuk menghindari kekosongan kekuasaan menyusul keputusan Washington untuk menarik pasukannya dari Suriah.

Menurut Presiden Donald Trump, ia telah melakukan “panggilan telepon yang panjang dan produktif” dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, untuk mencapai kesepakatan.

Presiden Erdogan mengatakan Turki akan mengambil alih tugas memerangi kelompok-kelompok DAESH di Suriah.

Dalam tweetnya, Presiden Trump mengatakan mereka membahas masalah Suriah dan bagaimana penarikan pasukan AS dari Suriah akan dilakukan secara perlahan.

Jumat lalu, Presiden Trump mengumumkan rencana untuk menarik 2.000 tentara AS dari Suriah. Tim ini adalah bagian dari upaya untuk membantu menyelaraskan tim multi-partai melawan DAESH.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan mitranya dari AS Donald Trump pada hari Minggu membahas masalah Suriah dalam percakapan telepon setelah penarikan pasukan AS dari Suriah, mengutip kantor berita China Xinhua.

Selama pembicaraan telepon, kedua pemimpin sepakat untuk bekerja sama, menekan kekosongan di Suriah. Ini selain membahas isu-isu terorisme DAESH serta isu-isu perdagangan yang diperluas.

Hari Minggu (23/12) kemarin, sekitar 100 kendaraan lapis baja Turki yang dilengkapi dengan senjata sudah mulai bergerak ke perbatasannya dengan Suriah.

Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Erdogan, kedua pemimpin sepakat untuk memastikan koordinasi diplomatik dan militer untuk mencegah kekosongan dalam hal kehadiran pihak berwenang, setelah penarikan AS dari Suriah.

Pada 19 Desember lalu, Washington mengumumkan pengunduran diri pasukannya dari Suriah setelah mengklaim kemenangan dalam perang melawan DAESH tanpa mengungkapkan rincian.

Erdogan sudah lama mendorong sekutunya NATO berhenti mendukung pasukan Kurdi di Suriah, YPG melawan Daesh. Menurut Turki, YPG adalah kelompok teroris yang memiliki afiliasi dengan partai terlarang Kurdistan Workers’ Party (PKK), sebuah partai beraliran sosialis-komunis, yang memperjuangan separtisme di Turki.

Menyusul langkah AS, Erdogan hari Jumat mengatakan Turki telah memutuskan untuk menunda operasi lintas-perbatasannya di daerah-daerah yang diduduki oleh milisi Kurdi di Suriah utara, kutip Anadolu.

(Nurcholis/INI-Network)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close