Profil

Tutut Soeharto, Perjalanan Hidup Yang Sarat Nilai

Oleh: Suandri Ansah |

Lebih dikenal dengan nama Mbak Tutut. Putri tertua mendiang Presiden Soeharto ini, banyak bergelut dengan isu-isu sosial dan kemanusiaan

suarapalu.com, Jakarta — “Bu, kenapa kok dalem dipanggil Tutut?” suatu kali Siti Hardijanti Rukmana bertanya kepada ibunya, Tien Hartinah atau lebih dikenal Tien Soeharto.

“Jenengmu kuwi wuk , Siti Hardiyanti Hastuti. Bapak dan Ibu memilih panggilanmu dari nama yang terakhir. Tuti dari Hastuti.”

Tepat hari ini, 23 Januari pada 69 tahun yang lalu Siti Hardijanti Rukmana dilahirkan. Sejarah mencatat, dua tahun sebelum Mbak Tutut lahir, pada tanggal yang sama lahirlah putri Presiden RI pertama Sukarno, yakni Megawati Soekarnoputri.

“Bapak ibu selalu nimbali Tut… Tuti. Tapi, kadang-kadang kalau dipanggil, nggak mau nengok. Untuk menarik perhatian kamu, bapakmu membuat panggilan lucu, Tut, Tut, Tut… Waduh, keretanya mau lewat, berulang-ulang baru kamu nengok sambil tertawa wuk. Karena kebiasaan, akhirnya dipanggil Tutut.”

Tutut memiliki empat saudara, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek, Hutomo Mandala Putra atau Tommy, dan Siti Hutami Endang Adiningsih atau Mamiek. Selaku anak sulung, Tutut termasuk anak yang paling dibanggakan ayahnya.

Tutut pernah menyandang gelar Menteri Sosial Republik Indonesia pada Kabinet Pembangunan VII sejak 14 Maret 1998 hingga 21 Mei 1998. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Anggota MPR RI Fraksi Golkar sejak 1 Oktober 1992 hingga 14 Maret 1998.

Di tahun yang sama, Tutut menjadi Ketua Koordinator Bidang Pemberdayaan Wanita DPP Golkar sampai 1997, juga sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) hingga 1998.

Kehidupannya di masa kecil dilalui sebagaimana kebanyakan anak seusianya; bermain, nakal, membantu orang tua, dan bersekolah. Seperti pada sebuah masa kecil di Semarang, Tutut juga sering membantu pekerjaan rumah tangga orang tuanya.

Tutut mengisahkan, saat Soeharto menjadi Panglima Kodam Diponegoro—,saat itu dia masih duduk di SR/Sekolah Rakya di Kampung Kagog. Setiap hari Ahad, Tien Soeharto selalu mengajaknya mencuci pakaian. Bagi Tutut, itulah momen berkesan dengan ibunya yang tak pernah dilupakan.

“Tadinya aku tidak mengerti kenapa kami harus mencuci sendiri baju-baju. Padahal ada asisten rumah tangga yang nyuci,” kenang Tutut dalam catatannya dikutip Tututsoeharto.id.

“Ngene wuk, memang sudah ada yang nyuci, tapi ibu ingin kamu tahu dan merasakan seperti apa kalau nyuci pakaian sendiri. Jadi kamu bisa tahu juga rasanya mereka bekerja,” timbal Tien memberi penjelasan.

Sambil merendam pakaian kotor ke dalam ember berisi air, Tien menasihati Tutut, “Pinter kowe ngger, Kamu musti menyadari, kalau nggak ada mereka, semua harus kita kerjakan sendiri.”

“Kamu bayangkan kalau semua kita kerjakan sendiri, pulang sekolah kamu cuci pakaian, setrika, nyapu lantai, ngepel, bersihkan kamar tidur, bantu masak, cuci piring dan gelas dan lain-lain sebagaimana yang mereka kerjakan. Belum bikin PR. Kowe mesti kesel banget.”

Menemani Penderita Kusta dan Memerangi Leprophobia

Pertengahan tahun 1987, Tutut mendapat surat dari RS Sitanala yang meminta Tutut terlibat dalam menangani para mantan penyandang kusta, dan memerangi ketakutan masyarakat terhadap Lepropobia.

Pada saat itu kusta memang merupakan momok dan menjadi mitos masyarakat. Pikiran yang sama menggelayut di benak Tutut. Pada sisi lain, keinginan membantu juga tak bisa dibendung. Apalagi kalau melihat penderita tersisih dari masyarakat.

Diantara kebimbangan yang berkecamuk di hatinya, Tutut memutuskan sowan ke ayahnya. Saat perbincangan itu, Soeharto mengusulkan agar Tutut mengambil pertimbangan ke Menteri Kesehatan, Adiyatma.

Tutut menemui Adiyatma dan menyampaikan niatannya membantu penyuluhan tentang penyakit kusta dengan harapan ketakutan masyarakat bisa dilengserkan. Menteri menyambut gembira dan mentutor Tutut, bahkan mendampinginya meninjau pasien kusta itu sendiri di Sitanala.

“Mbak Tutut, sebenarnya kusta ini tidak seseram yang orang bayangkan selama ini. Yang kita lihat seram bentuknya, itu karena penderita tidak menyadari dia terkena kusta, sehingga telat penanganannya, sebenarnya kalau ditangani secara cepat, sedini mungkin, tidak akan menimbulkan cacat bahkan bisa sembuh. Jadi penyuluhan kepada masyarakat sangatlah penting. Kalau mbak Tutut mau melakukan penyuluhan, ini akan sangat membantu,” kata Adiyatma.

Bersama HIPSI (Himpunan Pekerja Sosial Indonesia), Tutut berangkat ke Rumah Sakit Sitanala di dampingi Menteri Adiyatma. Di sana, Tutut menyaksikan sendiri betapa menyedihkanya kondisi fisik para penderita. Tutut diajak berkeliling menemui beragam pasien.

Dengan sabar dan runtut, Adiyatama menjelaskan penyakit yang mereka alami. “Ini bakterinya sudah menyerang syaraf di bawah permukaan kulit, sehingga jari-jarinya mulai melengkung dan kaku Mbak”

Di ruangan rumah sakit Sintala, terdapat kotak-kotak bak air yang dilengkapi dengan air kran. Setiap hari pasien dicuci kakinya dan di sikat dengan sikat kawat. “Ini disikat dengan sikat kawat kenceng begini, apa tidak sakit,” tanya Tutut kepada salah seorang pasien.

“Sama sekali tidak merasa apa-apa, Bu,”.

“Mereka tidak merasa sakit Mbak, karena sudah mati rasa seluruh syaraf yang terkena kusta,” timpal Adiyatma

Selepas dari kunjungan itu, di setiap kerja Tutut ke daerah, selalu memberikan penyuluhan pada masyarakat muda maupun tua. Lewat sosialisasi yang digencarkannya, kusta yang semula dianggap kutukan berubah jadi kepedulian. Masyarakat antusias ingin membantu penyandang kusta semampu mungkin.

Menginisiasi Rohis, Berhaji, dan Mulai Berkerudung

Pada era 80-an, Tutut pernah mempelopori terbentuknya Kirab Remaja yang bertujuan untuk memupuk rasa cinta tanah air di kalangan remaja dan memperkenalkan suatu organisasi berbasis agama seperti Rohani Islam atau ROHIS sebagai wadah organisasi yang mencetak generasi beriman.

Pada tahun 1989, Tutut beserta suami dan kerabatnya menunaikan ibadah haji. Kelak, dari sini, Tutut meneguhkan hati untuk konsisten mengenakan jilbab. Tutut berangkat bersama 60 orang kerabatnya. Ada yang sudah bersuami-istri, namun ada pula yang belum menikah.

Sepulang dari haji, Tutut bersama kerabat wanitanya membuat semacam janji bersama untuk tetap memakai kerudung selama 40 hari. Berkerudung secara kontinyu tak boleh lepas satu hari pun.

Selama itu, Tutut merasa ada sesuatu yang merambah hatinya. Dia merasa jadi lebih percaya diri dan sabar. Akhirnya dia pun memutuskan berjilbab selamanya. Namun pada suatu hari, Soeharto memanggilnya.

“ Wuk, kamu sekarang berkerudung terus ?”

“Iya pak.” timpal Tutut. “Kenapa sekarang, kamu mau terus memakai kerudung?” Soeharto bertanya lagi.

“Karena, selain perintah Allah, juga saya merasa lebih percaya diri dan lebih sabar pak,”

“Bukan karena ingin gaya-gayaan saja, atau menarik perhatian orang lain?” potong Soeharto.

Tidak pak.” Makin bingung Tutut menanggapi pertanyaan demi pertanyaan. dia merasa seperti disidang.

“Sudah bulat tekadmu untuk memakai kerudung selamanya?”

“Insya Allah sampun bapak,” singkat saya menjawab.

“Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Alhamdulillah…. Bapak dan ibu akan selalu mendukungmu. Hanya bapak minta, jangan sampai kamu sekarang berkerudung, setahun kemudian kamu lepas, setahun kemudiannya kamu pakai lagi. Laksanakan secara istiqomah.”

Setelah mengamini wejangan Soeharto, Tutut langsung sungkem mencium lututnya, sambil berusaha untuk bisa bicara : “Matur sembah nuwun bapak . Dalem nyuwun pangestu .” Hanya itu yang dapat terucap. Soeharto lalu mencium kening putrinya itu. (Kbb)

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close