InternasionalNews

Wanita Muslim Didenda karena Gunakan Burkini Saat Berenang

Oleh: Nurcholis |

 

Wartamelayu.com, Jakarta – Di Prancis, sekelompok wanita Muslim telah bertindak ‘melanggar aturan’ yang ditetapkan dari pihak pengelola kolam renang yang melarang mengenakan ‘burkini’ (pakaian renang tertutup khusus muslimah).

Dalam sebuah aksi protes yang terinspirasi oleh pelindung hak-hak sipil AS, Rosa Parks, mereka sengaja berenang dengan mengenakan burkini, dalam setelan yang menutupi seluruh tubuh kecuali wajah, tangan dan kaki, di kolam renang Jean Bronn yang ada di kota Grenoble, pada hari Selasa.

Baca Juga

60 ‘Crosser’ Dunia Siap Bertanding di Palembang

Tiket Pesawat Mahal, Penumpang di Pelabuhan Palembang Melonjak

Kolam renang Jean Bron adalah di antara kolam pemandian umum yang melarang penggunaan burkini di Prancis.

Banyak warga Prancis menganggap, burkini sebagai simbol politik Islam dan bertentangan dengan sekularisme di negeri itu.

Gerakan bernama ‘Operasi Burkini‘ diluncurkan bulan lalu oleh anggota kelompok Citizen Alliance of Grenobleyang bertujuan membela hak wanita Muslim, yang memungkinkan mereka mengenakan pakaian renang.

Dalam aksinya mereka nekat memasuki kolam dan berenang sekitar satu jam, berbaur dengan pengunjung lainnya. Banyak di antara pelanggan yang bersorak dan bertepuk tangan karena menganggap aksi para aktivis  tersebut melakukan tindakan yang berani.

Tak urung, setelah aksinya ini,   mereka akhirnya diperiksa polisi dan masing-masing didenda 35 Euro karena dianggap melanggar aturan.

Berbicara kepada BBC, dua wanita Muslim yang terlibat dalam protes, Hassiba dan Latifa, mengatakan mereka harus menikmati hak yang sama dengan warga negara lainnya.

Pembatasan ini merupakan masalah paling kontroversial di Prancis, yang – bersama dengan beberapa negara Eropa lainnya – tidak membolehkan perempuan Muslim– mengenakan hak menggunakan burka.

Para pendukung larangan nasional tentang kerudung seluruh wajah telah menyebutkan masalah keamanan, sementara yang lain mengatakan itu mencegah mereka yang memakainya untuk berintegrasi dengan masyarakat.

Prancis melarang masyarakat mengenakan penutup wajah pada 2011, menetapkan denda bagi pelanggar hingga 150 euro (Rp2,4 juta).

Prancis adalah rumah bagi minoritas Muslim terbesar di Eropa Barat yang berjumlah sekitar lima juta orang, atau hampir 8% dari populasi. Sebagian besar berasal dari wilayah bekas koloni Prancis di Afrika Utara.

Selasa, 23 Oktober 2018, Komite HAM PBB telah memerintahkan Prancis agar membayar uang kompensasi kepada dua perempuan Prancis yang dituntut secara hukum pada 2012 karena menggunakan cadar. Cadar adalah jilbab yang hanya memperlihatkan bagian mata.

Komite HAM PBB menyebut Prancis telah gagal terkait aturan larangan bercadar ini sehingga pemerintah Prancis harus mengkaji ulang peraturan ini. Komite itu menilai larangan perempuan muslim bercadar telah membawa dampak yang merugikan mereka, diantaranya membatasi mereka ke luar rumah, menghalangi akses mereka ke layanan publik dan meminggirkan mereka. (Rap/cak/INI-Network)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close